YPIT Mutiara

Merindukan dan Memenuhi Panggilan Allah Tepat Waktu

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang drhmati Allah,pastikan kmitment kita hari ini smakin istiqamah meningkatkan Iman dan Taqwa serta Amal Shaleh utk meraih Ridha Allah beserta AmpunanNYA dengan selalu bersyukur dan saling berbagi untuk meraih kebahagiaan yang hakiki dunia akherat.

MERINDUKAN DAN MEMENUHI PANGGILAN ALLAH TEPAT WAKTU

Dengan Rahmat dan Kasih Sayang Allah,Allah selalu memanggil Awal shalat ditandai dg brkumandangnya azan,tetapi sering kita temukan,baik itu di pasar, dikantor, atau tempat-tempat lain masih ada diantara kita yang mengaku umat muslim sibuk dg urusannya masing-masing. Kita tidak bergegas memenuhi panggilan azan untuk shalat, bahkan ada juga diantara kita yang benar-benar melalaikan sholat lima waktu,na'udzu billah min dzalik.

Shalat di awal waktu adalah amalan yang paling utama di sisi Allah.
Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang amalan yang paling utama,beliau mnjawab: “Shalat di awal waktunya.” (HR. Imam Al Bukhari dan Muslim)
Allah SWT  telah menetapkan waktu setiap shalat fardhu, dan memerintahkan kita untuk berdisiplin memeliharanya. Firman Allah: “…Sesungguhnya shalat itu adalah kwajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS.An Nisa: 103).  

Dan waktu shalat adalah:
Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW menunda shalat Isya`hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat.” (HR  Muttafaqun Alaihi).

Dari Jabir ra brkata,“Dan Rasulullah SAW melakukan shalat isya’ terkadang diakhirkan dan terkadang di awalnya. Bila bliau mlihat jamaah telah berkumpul, maka isya’ dipercepat dan bila mereka datang lebih lambat, maka shalat Isya diakhirkan… (HR Bukhari dan Muslim). Dari Jabir bin Abdillah r.a, bahwa Rasulullah SAW. kedatangan Malaikat Jibril a.s., dan berkata, “Bangun lalu shalatlah”, maka Rasulullah SAW shalat zhuhur ketika matahari bergeser ke arah barat. Kemudian Jibril a.s. datang kembali di waktu ashar dan mengatakan,

“Bangun dan shalatlah.” Maka Rasulullah SAW. shalat ashar ketika bayangan benda sudah sama dengan aslinya. Kemudian Jibril a.s. mendatanginya di waktu maghrib ketika matahari terbenam, kemudian mendatanginya ketika isya’ dan mengatakan bangun dan shalatlah. Rasulullah shalat isya’ ketika telah hilang rona merah. Lalu Jibril mendatanginya waktu fajar ketika fajar sudah menyingsing. Keesokan harinya Jibril datang waktu zhuhur dan mngatakan, “Bangun dan shalatlah.” Rasulullah shalat zhuhur ketika bayangan benda telah sama dg aslinya. Lalu Jibril mndatanginya waktu ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah.” Rasulullah saw. shalat ashar ketika bayangan benda telah dua kali benda aslinya. Jibril a.s. mendatanginya waktu maghrib di waktu yang sama dengan kemarin, tidak berubah. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu isya’ ktika sudah berlalu separuh malam, atau sepertiga malam, lalu Rasulullah shalat isya’. Kemudian Jibril mendatanginya ketika sudah sangat terang, dan mengatakan, “Bangun dan shalatlah.” Maka Rasulullah shalat fajar. Kemudian Jibril a.s. berkata, “Antara dua waktu itulah waktu shalat.” (Ahmad, An-Nasa’i dan Tirmidzi. Bukhari mengomentari hadits ini, “Inilah hadits yang paling shahih tentang waktu shalat.)

Meskipun shalat tidak diwajibkan kecuali kepada muslim yang berakal dan baligh, tetapi shalat dianjurkan untuk diperintahkan kepada anak-anak yang sudah berumur tujuh tahun. Dan dipukul jika tidak mengerjakannya setelah berusia sepuluh tahun. Ini agar shalat menjadi kebiasaannya. Seperti dalam hadits, “Perintahkan anakmu shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah ia jika berusia sepuluh tahun, pisahkan tempat tidur mereka.” (Ahmad, Abu Daud, dan Hakim, yang mengatakan hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan Imam Muslim)

Ibadah yang dijadikan Allah sebagai barometer hisab amal hamba-hamba-Nya di akhirat, adalah shalat “Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (HR. At-Thabrani)

Azan yang berkumandang adalah panggilan dari Allah untuk kita, agar kita segera menunaikan kewajiban kita kepada-Nya, yaitu shalat, kita diciptakan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya, seperti yang tertulis dalam firman-Nya disurah Adz Dzariyat  ayat 56 :  ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku/mengabdi kepada-Ku”

Apabila kita menunda-nunda shalat,maka secara tidak langsung kita telah menyuruh Allah untuk menunggu kita, pantaskah kita melakukannya?? Menyuruh Tuhan yang menciptakan kita dan memenuhi semua hajat kebutuhan kita untuk menunggu kita, disaat Ia memanggil kita untuk menunaikan kewajiban kita pada-Nya? Pantaskan kita menyuruh-Nya menunggu kita menyelesaikan pekerjaan dan atau urusan duniawi kita terlebih dahulu? Sedangkan, yang sebenarnya adalah, kemapuan kita bekerja, beraktifitas, berkarya, itu semua adalah karena Karunia dan Kemurahan-Nya? Dan bukankah kita masih bisa tetap berada didunia ini,  juga atas ijin-Nya? Lalu mengapa masih ada dari kita yang bila Allah memanggil untuk menunaikan kewajiban kita pada-Nya, kita sering menunda-nunda memenuhi panggilan-Nya?  Bahkan yang paling parah, ada dari kita yang benar-benar melalaikan kewajiban kita pada-Nya karena sibuk mencari dunia.

Saat azan berkumandang,  janganlah kita katakan kepada shalat, “Aku sedang sibuk,” tetapi katakanlah kepada kesibukkan kita, “Waktu shalat telah tiba!” Mari kita semua mulai membiasakan diri untuk shalat pada awal waktu, tunaikanlah shalat pada waktunya. Janganlah memajukkan waktu shalat karena kita sedang menganggur, dan jangan menundanya  karena kita sedang sibuk.

Sekarang mari kita tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, sudahkah kita benar-benar mengupayakan untuk selalu shalat diawal waktu shalat? Bila belum, usahakanlah untuk melaksanakannya dengan sepenuh hati. Percayalah, bila kita melakukannya dengan tulus ikhlas karena Allah, maka hal tersebut akan membawa perubahan besar dalam hidup kita.

Selamat mengutamakan panggilan Allah.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kesabaran Menghadapi Ujian Hidup



بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang dirhmati Allah,pastikan komitment kita hari ini semakin istiqamah meningkatkan Iman dan Taqwa serta Amal Shaleh untuk meraih Ridha Allah beserta AmpunanNYA dengan selalu bersyukur dan saling berbagi untuk meraih kebahagiaan yang hakiki dunia akherat.

 

Orang mukmin yang benar-benar bertakwa adalah orang yang bisa bersabar ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan, semakin bersyukur ketika mendapatkan berbagai macam kenikmatan, sehingga mampu mempergunakan untuk sesuatu yang diridhai-Nya dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia.

 

Setiap manusia sealu saja datang cobaan dalam kehidupannya, cobaan itu datang selalu tidak pernah di duga, dan bahkan cobaan itu kerap kali silih berganti menerpa dan menerjang diri manusia, baik batin maupun raganya, bahkan sampai dengan cobaan yang datang menerjang kondisi ekonominya.

 

Manusia memang kodratnya harus menerima dan mendapatkan cobaan-cobaan dalam hidup.Cobaan dalam perjalanan hidup sejak dilahirkan dari kandungan ibunda hingga cobaan mendekat masa-masa akhir usia menutup mata.

Allah SWT memberikan cobaan agar kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Cobaan yang diberiakan Allah SWT jelas dengan tujuan-Nya untuk kita, agar kita bisa lebih mawas diri serta berhati-hati dalam melangkah. Selain itu sebagai mediasi kita sendiri untuk lebih bisa memahami karakter negatif kita akan egoisme diri dari segala sifat maupun watak yang senangnya mau benar sendiri serta suudzon yang berlebihan kepada siapapun.

 

Alkisah, Ada seorang bapak yang selama hidupnya jauh dari Allah SWT. Sampai ada satu peristiwa yang begitu mengejutkan sehingga menyadarkan dirinya betapa Maha Besarnya Sang Khaliq telah menegur dirinya.

 

Anaknya yang pertama,teramat dicintainya mengalami sakit. Tiba-tiba perutnya mengembung. Anaknya menangis terus menerus. Tanpa berpikir panjang dirinya segera membawa anaknya ke rumah sakit. Sebagai seorang ayah tak kuasa dirinya menahan air mata.Dokter sempat mengatakan kesempatan hidup anaknya tidak lama lagi.Tim dokter mmpersiapkan untuk operasi anaknya. Nah disinilah "Siapa yang mengatur hidup mati kita ?, apakah dokter itu yang mengatur ?".

 

Kemudian bapak tersebut teringat akan dosa-dosanya,maka segera berwudlu, menegakkan shalat taubat,berstighfar, bershodaqoh dengan ikhlas,berdoa memohon ampun kepada Allah SWT agar diberikan kesembuhan untuk anak tercintanya. Keesokan harinya operasi dilaksanakan. Lampu operasi sudah menyala. Sementara seorang anak kecil tergeletak tak berdaya. Sang ayah nampak sangat gelisah. Hilir mudik didepan kamar operasi. Perkataan istrinya sudah tidak digubrisnya lagi. Sang ayah tak henti hentinya berdoa dan beristighfar.

 

Tak lama kmudian seorang dokter keluar dari kamar operasi muncul didepan pintu sambil tersenyum. "Bapak, berdasarkan hasil pemeriksaan kami, putra bapak tidak perlu dioperasi,"

 

Spontan saja sang bapak mengucapkan alhandulillah Ya Allah. Desah nafasnya terasa ringan. Air matanya bercucuran. Syukur Alhamdulillah berkali-kali diucapkannya dan bersujud.Sujud syukur sambil menangis tak tertahankan. Alangkah nikmatnya rasanya menerima anugerah Allah SWT justru disaat harapan sudah mulai menipis. Begitulah Allah SWT senantiasa memberikan cobaan kepada setiap hamba-Nya agar mendekatkan diri kepada Allah. Subhanallah..

 

Ujian dan cobaan di dunia merupakan kehendak Allah, siapa pun tidak bisa terlepas darinya. Bahkan, itulah warna warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan mrupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman seseorang kepada Allah SWT

 

Perlu kita sadari sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi tubi menerpa hidup kita merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.

 

Keimanan,keyakinan,tawakkal dan kesabaran yang istiqamah amatlah sangat kita butuhkan dalam menghadapi badai cobaan yang menerpa. Sehingga tidak menjadikan diri kita berburuk sangka kepada Allah SWT terhadap segala Ketentuan-Nya.Tidaklah pantas pula memiliki sifat dan watak yang gemarnya bersuudzon kepada sesama, apalagi kepada Sang Pencipta..

 

Oleh karena itu, dalam keadaan apapun, kita sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah mnurunkan berbagai musibah melainkan sebagai ujian atas keimanan yang kita miliki. Allah berfirman: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan sehingga berkatalah Rasul dan orang orang yang bersamanya :

"Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat." (QS. Al Baqarah : 214)

 

Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebagaimana dalam firman-Nya :

“…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)

 

Membaca,memahami dan mengamalkan surat alfatehah sebagai doa dalam menggapai kesabaran hidup:

"Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Mengasihani.

Sgala puji bagi Allah,Tuhan smesta alam. Yang maha pmurah lagi maha mengasihani. Yang menguasai hari pembalasan.

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Yaitu jalan orang-orang yang Engkau kurniakan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan jalan mereka yang sesat.

 

Allah SWT dengan segala firmannya yang tertera didalam Al-Qur'an tentang kesabaran adalah :

 

1).Sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena takut ancaman Allah, Kita harus selalu berada dalam keimanan dan meninggalkan perkara yang diharamkan. Yang lebih baik lagi adalah,sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena malu kepada Allah. Apabila kita mampu muraqabah (meyakini dan merasakan Allah sedang melihat dan mengawasi kita)  maka sudah seharusnya kita malu mlakukan maksiat,karena kita menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita kerjakan.Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya, di surah Al Hadid ayat 4

”…….. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

 

2). Tingkatan sabar yang kedua adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah,dengan terus-menerus mlaksanakannya, memelihara keikhlasan dalam mengerjakannya dan memperbaikinya. Dalam menjalankan ketaatan, tujuannya hanya agar amal ibadah yang dilakukan diterima Allah, tujuannya semata-mata ikhlas karena Allah SWT.

 

Beberapa Hal Yang Akan Menuntun Seorang Hamba Untuk Bisa Sabar Dalam Menghadapi Ujian Dan Cobaan:

1). Sebaiknya kita merenungkan dosa dosa yang telah kita lakukan. Dan Allah mnimpakan ujian atau musibah-musibah tersebut disebabkan dosa-dosa kita . Sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan apa saja musibah yang mnimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuro : 30).

 

Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah-musibah yang menimpa disebabkan oleh dosa-dosanya. Maka dia akan sgera bertaubat dan mohon ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang telah dilakukannya

 

Dan Nabi Muhammad saw bersabda:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sbagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi ujian dan cobaan, bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita dan juga untuk mengangkat kita ke derajat keimanan yang lebih tinggi.

 

2). Kita harus menyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah selalu bersama kita. Dan Allah telah memberikan jaminan untuk kita dalam surah Al Baqarah ayat 286, bahwa  "Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya."

Dan Allah cinta dan ridha kepada orang yang sabar.Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya :

"Dan sabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. " (QS Al Anfal : 46)

"…Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS.Al Imran : 146)

Bersabarlah maka kita akan melihat btapa dekatnya kelapangan. Barangsiapa yang muraqabah (merasa  diawasi) Allah dalam seluruh urusan, ia akan menjadi hamba Allah yang sabar dan berhasil melalui ujian apapun dalam hidupnya. Kesabaran yang didapatkan ini, berdasarkan pada petunjuk Allah dalam Al Quran, surah At Thur ayat 48  : "Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri,dan ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mengharapkan Allah, maka  Allah akan ada dimana dia mengharap."

 

3).Kita harus mengetahui bahwa jika kita bersabar,maka akan mendatangkan ridha Allah, karena ridha Allah SWT, terdapat dalam kesabaran kita, terhadap segala ujian dan ketentuan takdir-Nya, yang kurang kita sukai.

 

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila tertimpa musibah mengucapkan, 'Kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya" (QS 2:155-156).

 

Sabar memiliki kdudukan tinggi yang mulia dalam pandangan Allah SWT. Oleh karena itu, Al Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sabar setengah dari keimanan dan setengahnya lagi adalah syukur.

Sabar merupakan perintah Mulia dari Rabb Yang Maha Mulia, dalam firman-Nya:"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,.." (QS. Al-Baqarah: 153)

Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman brsabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu,..… (QS.Ali Imran: 200)

 

Jadi jelaslah bahwa dari ke dua ayat diatas menerangkan bahwa sabar merupakan perintah dari Allah SWT. Sabar termasuk ibadah dari ibadah-ibadah yang Allah wajibkan kepada hamba-Nya. Terlebih lagi, Allah SWT kuatkan perintah sabar trsbut dalam ayat yang kedua. Barangsiapa yang memenuhi kewajiban itu, berarti ia telah menduduki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.

 

Nah mari kita sama-sama berusaha untuk mencoba renungkan, bukankah kita selalu mampu untuk bisa sabar dalam menerima ujian-Nya yang berupa nikmat hidup ?. Maka sudah seharusnya kita juga harus bisa sabar dalam menerima unjian-Nya yang berupa kehilangan nikmat hidup, istilahnya, jangan mau terima yang enak-enak saja Karena yang enak itu belum tentu nikmat untuk dirasakan dalam hidup, dan justru bisa menjadikan racun serta jurang yang membahayakan kita dalam hidup yang sesungguhnya.

 

Jadi kita sebaiknya harus bisa bersabar dalam menghadapi segala macam ujian dalam hidup kita, terutama setelah kita mngetahui keutamaan besar yang Allah SWT janjikan bagi hamba-Nya yang bersabar.

 

Semoga bermanfaat untuk kita semua sebagai manusia yang memiliki hati serta ketakwaan kepada Allah SWT. Dan adapun kesempurnaan itu adalah milik Allah SWT, namun kekurangan dan kealfaan adalah bagian dari kodrat hidup kita sebagai manusia yang harus bisa untuk lebih baik dari kekurangan dan kealfaan tersebut.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Abdul Gaffar

 

Waktunya Pasti Datang

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang dirhmati Allah,pastikan komitment kita hari ini semakin istiqamah meningkatkan Iman dan Taqwa serta Amal Shaleh untuk meraih Ridha Allah beserta AmpunanNYA dg selalu bersyukur dan saling berbagi untuk meraih kebahagiaan yang hakiki dunia akherat.

Waktunya Pasti Datang
Bapak-Ibu Sahabat sehati yang dirahmati Allah,Suatu kepastian bahwa manusia akan menjadi jenazah di kemudian hari...
Berapa lama kita akan merasa muda. Padahal uban kelak akan memenuhi kepala kita...
Kita pura-pura lalai, sementara pemberi peringatan telah datang kepada kita...
Sungguh kematian ada sakaratnya...
Bersiaplah diri waktunya pasti datang...
Dokter ataupun Tabib manapun tidak bisa menyembuhkan kita...

Setiap hari kematian membentangkan kain kafan, sementara kita lupa dari hal yang menuju pada kita.

Tiap detik mengurangi menit...
Tiap menit mengurangi jam...
Tiap jam mengurangi hari...
Tiap hari mengurangi pekan...
Tiap pekan mengurangi bulan...
Tiap bulan mengurangi tahun...
Tiap tahun mengurangi umur...

"Masih lalaikah kita oleh dunia" ?
Bertaubatlah sebelum terlambat....!!!

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Nikmatnya istiqamah Menegakkan Shalat

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Bapak-Ibu sahabat sehati yang dirahmati Allah, pastikan komitment kita hari ini semakin istiqamah meningkatkan Iman dan Taqwa serta Amal Shaleh untuk meraih Ridha Allah beserta AmpunanNYA dengan selalu bersyukur dan saling berbagi untuk meraih kebahagiaan yang hakiki dunia akherat.

Islam menempatkan sholat lima waktu sebagai sebuah ibadah mahdhoh (ritual) yang memiliki keistimewaan. Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menerima perintah sholat lima waktu dari Allah subhaanahu wa ta’aala dengan cara yang juga sangat istimewa. Allah ta’aala memperjalankan hambaNya dalam suatu malam menempuh horizontal journey from earh to earth dari masjid Al Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsho di Baitul Maqdis (Jerusalem). Selanjutnya Allah ta’aala perjalankan hambaNya dalam suatu vertical journey from earth to the heavens in the sky dari Masjid Al Aqsho di Baitul Maqdis bertemu langsung dengan Allah ta’aala di langit tertinggi. Lalu pada saat beraudiensi langsung dengan Allah ’Azza wa Jalla itulah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menerima perintah menegakkan sholat lima waktu setiap hari.

Sholat merupakan bentuk formal dzikrullah atau mengingat Allah ta’aala. Bagi seorang muslim betapapun banyaknya lisannya berzikir dalam pengertian ber-wirid setiap harinya, namun bila ia tidak menegakkan sholat berarti ia meninggalkan secara sengaja kewajiban mengingat Allah ta’aala secara resmi sebagaimana diperintahkan Allah ta’aala dan sesuai contoh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

Sholat adalah bukti kepatuhan dan loyalitas hamba kepada Rabbnya. Sholat lima waktu merupakan indikator seorang hamba masih connect dengan Pencipta, Pemilik, Pemelihara alam semesta. Bila seorang manusia tidak sholat lima waktu secara disiplin setiap hari berarti ia merupakan hamba yang disconnected (terputus) dari rahmat Allah ta’aala. Itulah sebabnya di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa seseorang bakal celaka walaupun ia sholat. Sebab ia lalai menjalankan sholatnya sehingga tidak selalu disiplin lima waktu setiap harinya.


فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS Al-Maa’uun ayat 4-5)
Di antara alasan utama seorang muslim lalai menegakkan sholat lima waktu setiap hari-apalagi berjama’ah di masjid adalah karena dihinggapi penyakit malas beribadah. Padahal kemalasan beribadah khususnya sholat lima waktu,langsung mengindikasikan kelemahan komitmen dan kepatuhan muslim kepada Allah ta’aala. Bahkan sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan bahwa di zaman para sahabat radhiyallahu ’anhum hidup bersama Nabi shollallahu ’alaih wa sallam jika ada muslm yang tidak sholat berjama’ah di masjid berarti ia diasumsikan sebagai seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya.

Maka dalam rangka mengikis penyakit malas beribadah seorang Muslim perlu juga memahami apa manfaat sholat lima waktu setiap hari. Di antaranya ialah dihapuskannya dosa-dosa oleh Allah ta’aala. Subhaanallah…!
Bayangkan, setiap seorang muslim selesai mengerjakan sholat lima waktu berarti ia baru saja membersihkan dirinya dari tumpukan dosa yang sadar tidak sadar telah dikerjakannya antara sholat yang baru ia kerjakan dg sholat terakhir yang ia ia kerjakan sebelumnya.



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ


Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Sholat lima waktu dan (sholat) Jum’at ke(sholat) Jum’at serta dari Ramadhan ke Ramadhan semua itu menjadi penghabus(dosanya) antara keduanya selama ia tidak terlibat dosa besar.” (HR Muslim 2/23)

Bila seorang muslim memahami dan meyakini kebenaran hadits di atas, niscaya ia tidak akan membiarkan satu kalipun sholat lima waktunya trlewatkan. Bahkan dalam hadits yang lain dikatakan bahwa bila seorang muslim khusyu dalam sholatnya, maka ia akan diampuni segenap dosanya di masa lalu. Subhaanallah…!



مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ


“Tidak seorangpun yang bilamana tiba waktu sholat fardhu lalu ia mmbaguskan wudhunya,khusyu’nya,rukuknya, melainkan sholatnya menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lampau, selagi ia tidak mengerjakan dosa yang besar. Dan yang demikian itu berlaku untuk seterusnya.” (HR Muslim 2/13)

Syaratnya asalkan ia tidak terlibat dalam dosa besar, maka dosa-dosa masa lalunya pasti bakal diampuni Allah ta’aala. Adapun di antara dosa-dosa besar ialah sebagaimana disebuntukan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, yakni:



ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَبَائِرَ أَوْ سُئِلَ عَنْ الْكَبَائِرِ فَقَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالَ قَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ شَهَادَةُ الزُّورِ


Ktika ditanya mengenai dosa-dosa besar Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Mempersekutukan Allah ta’aala, membunuh jiwa serta durhaka kepada kedua orang-tua. Dan maukah kalian kuberitakan mengenai dosa besar yang paling besar? Yaitu kesaksian palsu.” (HR Muslim 1/243)

Untuk menghapus dosa-dosa besar tersebut tidak cukup dengan seseorang menegakkan sholat lima waktu. Ia harusmenempuh prosedur taubatan nasuha yang khusus. Maka hindarilah sedapat mungkin terlibat dalammengerjakan dosa-dosa besar. Dalam bahasa berbeda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengingatkan kita agar menjauhi tujuh penyebab bencana, yaitu:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ
وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ
وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ


 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh penyebab bencana.” Para sahabat radhiyallahu ’anhum bertanya: “Apa itu ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah ta’aala, sihir, membunuh jiwa yang Allah ta’aala haramkan membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, desersi dari medan jihad serta menuduh wanita mu’minah yang memelihara diri sebagai melakukan perbuatan keji.” (HR Muslim 1/244)
Selamat menjadi pribadi istiqamah taat beribadah dan beramal shaleh sampai akhir hayat.


Wassalamu’alaikum Warahmatulllahi Wabarakatuh
Abdul Gaffar

Dahsyatnya Kekuatan Do'a dalam Mengatasi Masalah

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang dirhmati Allah,pastikan komitment kita hari ini semakin istiqamah meingkatkan Iman dan Taqwa serta Amal Shaleh untuk meraih Ridha Allah beserta AmpunanNYA dengan selalu bersyukur dan saling berbagi untuk meraih kebahagiaan yang hakiki dunia akherat.

Dalam menjalani kehidupan ini sering kita dihadapkan pada kesulitan. Terkadang kesulitan itu amat berat sehingga membuat kita hampir putus asa. Namun, keimanan akan kuasa Allah Ta’ala yang tidak terhingga,menjadikan kita tetap bersabar dan memiliki harapan.

Sesungguhnya alam semesta berada di bawah kuasa dan kendali Allah Ta’ala. Semuanya patuh kepada ketetapan dan kehendak-Nya.Tidak ada yangg bisa bergerak atau bertingkah laku kecuali dengan daya, kekuatan, kehendak, dan izin-Nya.Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Sebaliknya, yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.

Allah Mahakuasa melakukan apa saja. Dia mampu menjadikan segala kemudahan menjadi sesuatu yang sulit, juga sesuatu yang sulit menjadi mudah. Tidak ada yang susah bagi-Nya, karena Dia Mahakuasa atas segala-galanya. Karenanya ketika menghadapi kesulitan dan berbagai cobaan hidup kita tidak boleh putus asa. Masih ada Allah yang bisa kita minta dan mohon pertolongan-Nya. Maka kita diperintahkan untuk berdoa saat mengalami kesulitan,

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

 

اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allaahumma Laa Sahla Illaa Maa Ja’altahu Sahlaa Wa Anta Taj’alul Hazna Idza Syi’ta Sahlaa
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak,Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.”

Makna Doa

Allah tidak menjadikan segala sesuatu mudah bagi manusia.Tidak ada kemudahan bagi mereka,kecuali apa yang Allah jadikan mudah. Dan sesungguhnya kemudahan adalah apa yang Allah jadikan mudah. Sebaliknya, kesulitan dan kesusahan jika Allah kehendaki bisa menjadi mudah dan ringan. Sebagaimana kemudahan dan perkara ringan bisa menjadi sulit dan berat, jika Allah menghendakinya.  Karena semua perkara berada di tangan Allah 'Azza wa Jalla.
Kandungan doa ini, seseorang memohon kepada Allah agar memudahkan segala urusannya yang sulit dan memuji Allah 'Azza wa Jalla bahwa segala urusan ada di tangan-Nya, jika Dia berkehendak, kesulitan bisa menjadi mudah.

Allah 'Azza wa Jalla mahakuasa melakukan apa saja. Dan Dia mampu menjadikan kemudahan menjadi sesuatu yang sulit, juga sesuatu yang sulit menjadi mudah. Tidak ada yang susah bagi-Nya, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Di Samping Berdoa, Apa yang harus kita Dilakukan?

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat.”(QS. Al-Baqarah: 153)


Allah Ta’ala menjelaskan bahwa cara terbaik untuk meminta pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai musibah (di antaranya kesulitan dalam hidup) adalah dengan bersabar dan shalat.

Dan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila dihadapkan pada suatu masalah maka beliau segera shalat. (HR. Abu Dawud dan Ahmad dari Hudzaifah bin Yaman)

Sedangkan sabar untuk dalam hal ayat ini ada dua macam, yaitu sabar dalam rangka meninggalkan berbagai perkara haram dan dosa; dan bersabar dalam menjalankan ketaatan dan ibadah. Dan bersabar bentuk yg kedua adalah lebih banyak pahalanya, dan itulah sabar yg lebih dekat maksudnya utk mndapatkan kemudahan.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam brkata, “Sabar ada dua bentuk: bersabar untuk Allah dg menjalankan apa yg Dia cintai walaupun berat bagi jiwa dan badan. Dan bersabar untuk Allah dari segala yg Dia benci walaupun keinginan nafsu menentangnya. Siapa yg kondisinya seperti ini maka dia termasuk dari golongan orang-orang yg sabar yg akan selamat, insya Allah.”

Beberapa Doa Lain Untuk Mendapatkan Kemudahan:

Doa ketika ditimpa musibah dan kesusahan:

 

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

“Wahai Yang Maha Hidup Kekal, Yang terus menerus mengurus ( mahluk-Nya ), hanya dengan rahmat-Mu saja, saya meminta pertolongan.”


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Dari Anas bin Malik berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, apabila menghadapi suatu masalah, beliau berdoa,”Wahai Yang Maha Hidup Kekal, Yang terus menerus mengurus(mahluk-Nya),hanya dg rahmat-Mu saja, saya meminta pertolongan.” (HR. al-Tirmidzi no. 3524. Dihassankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 3182)

Doa Nabi Yunus saat berada di perut ikan:


أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Doa Nabi Yunus taatkala ia berada di dalam perut ikan: Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Sesungguhnya tak seorang muslim yang berdoa kepada Rabb-nya dengan doa tersebut dalam kondisi apapun kecuali Allah akan mengabulkan untuknya.” (HR. al-Tirmidzi no. 3505 dan dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 1644) 

Dan dalam Riwayat al-Hakim, Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ”Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu jika kamu ditimpa suatu masalah  atau ujian dalam urusan dunia ini, kemudian berdoa dengannya.” Yaitu doa Dzun Nun atau Nabi Yunus di atas.

Sebaiknya seorang muslim membiasakan diri dengan doa yang diajarkan oleh sunnah dalam menghadapi kesulitan.


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Abdul Gaffar