YPIT Mutiara

Nikmatnya Keihlasan

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Bapak-ibu sahabat sehati yang dirahmati Allah, Alhamdulillah Allah karuniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah taat beribadah, berihtiar, berdo'a, bersyukur, bersabar dan segera bertaubat dengan ikhlas serta bertawakkal dengan saling mengingatkan, mengarahkan kejalan yang benar dengan sabar agar Allah karuniakan kebahagiaan dan kemuliaan hidup dunia akhirat.


Ikhlas adalah satu kata yang sangat mudah diucapkan oleh stiap orang, termasuk orang munafik dan kafir sekalipun. Tetapi sejatinya kata inilah yang paling berat dan paling sulit untuk direalisasikan.
Akumulasi dari hati yang bersih dan akhlak yang terpuji menyatu pada keikhlasan. Sementara, tanpa keikhlasan tidak ada lagi hati dan akhlak. Hati kosong dan gersang menjadi sarang penyakit. Mulut berbusa mengeluarkan kata-kata tanpa makna. Anggota badan bekerja bagai robot kasar tanpa rasa dan hati.


Keikhlasan merupakan mutiara teramat mahal yang harus dimiliki setiap mukmin. Mutiara yang harus senantiasa dibersihkan dari berbagai macam kotoran dan debu.

Keikhlasan membuat beban menjadi ringan, kesusahan menjadi hiburan, musibah menjadi pembersih hati, penjara menjadi pesantren, pengusiran menjadi rihlah gerakan, harta menjadi jalan kontribusi yang signifikan, dan kekuasaan menjadi amanah perjuangan. Sungguh indah kata-kata mutiara Ibnu Taimiyah yang diungkapkan secara jujur, “Penahananku adalah perenungan, pengusiranku adalah tamasya, dan pembunuhanku adalah syahid.”

Nikmatnya Keihlasan

Sesungguhnya pohon keikhlasan akan menghasilkan buah keikhlasan: manis, indah, dan menyenangkan. Karena berasal dari pohon yang baik, akarnya kuat dan kokoh sedangkan cabangnya menjulang ke langit, menghasilkan buahnya setiap saat (Lihat surat Ibrahim: 24-25)

1.     Sampai pada hakekat Islam, yaitu penyerahan total pada Allah. Berkata Ibnul Qoyyim, “Meninggalkan syahwat karena Allah adalah jalan paling selamat dari adzab Allah dan paling sukses meraih rahmat Allah.

2.     Selamat dari cinta harta, kedudukan, dan popularitas. Dari Ka’ab bin Malik r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar dikirim ke kambing lebih merusak melebihi ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi). Ka’ab bin Malik adalah seorang sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk karena bersantai-santai. Akibatnya dia mendapat hukuman yang berat, diboikot Rasulullah saw. dan para sahabat selama 50 hari. Tapi dia jujur dan mengatakan apa adanya pada Rasulullah saw., tidak seperti yang dilakukan oleh kaum munafik. Pada saat kondisi sulit dan dunia terasa sempit, muncul tawaran suaka politik dari Raja Ghasan. Ka’ab ikhlas menerima ujian itu dan menolak segala tawaran politik Raja Ghasan dengan segala kemewahan dan popularitasnya.

3.     Bebas dari perbuatan buruk dan keji. Nabi Yusuf a.s. adalah salah satu contoh yang diselamatkan Allah swt. dari perbuatan keji dan mesum berkat keikhlasan beliau (lihat surat Yusuf: 24).

4.     Ikhlas menjadikan amal dunia secara umum sebagai ibadah yang berpahala. Sesungguhnya banyak sekali amal umum yang jika kita niatkan karena Allah maka akan berpahala. Memberi makan, nafkah, dan menyalurkan hasrat seks pada istri, bersenda gurau dengan anak istri, berolah raga, rekreasi yang sehat, makan dan minum secara umum. Dari Abu Dzar r.a., sejumlah sahabat Rasulullah saw. berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah saw., para hartawan itu pergi dengan banyak pahala. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mengerjakan puasa sebagaimana kami puasa, dan bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki (sedang kami tidak mampu).” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah bagi kalian, setiap takbir (Allahu Akbar) sedekah bagi kalian, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah bagi kalian, setiap tahlil (laa ilaaha illallah) adalah sedekah bagi kalian. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar sedekah, dan bersetubuh adalah sedekah pula.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah di antara kami apabila menyalurkan syahwatnya (kepada istri) juga mendapat pahala?” Jawab beliau, “Tahukah kalian, jika dia menyalurkannya pada yang haram (berzina), bukankah baginya ada dosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal, maka baginya berpahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

5.     Keluar dari setiap kesempitan. Kisah tiga orang yang terjebak dalam gua bukanlah sekedar kisah pelipur lara atau kisah pengantar tidur yang tanpa makna. Tiga orang yang mempersembahkan amalan unggulannya: pertama, birrul walidain; kedua, peduli terhadap pegawainya; dan ketiga, pengendalian syahwat yang luar biasa. Keajaiban itu terjadi karena buah keikhlasan dan keajaiban itu dapat berulang setiap saat, jika syaratnya terpenuhi: ikhlas.


Ada banyak sekali daftar kesempitan pada umat Islam. Kesempitan kemiskinan, kekurangan pangan, lapangan kerja, fitnah teroris, korupsi, pejabat yang culas, perzinahan dan pemerkosaan, mafia peradilan, premanisme dan banyak lagi pernik-pernik kesempitan. Sehingga untuk keluar dari semua kesempitan itu, dibutuhkan bukan hanya tiga orang yang ikhlas, tetapi sepuluh, seratus, seribu, sejuta, sepuluh juta, seratus juta, dan bahkan lebih dari itu.

6.     Kemenangan dari tipu daya syetan. Diriwayatkan dari Al-Hasan berkata, “Ada sebuah pohon yang disembah manusia selain Allah. Maka seseorang mendatangi pohon tersebut dan berkata, ‘Saya akan tebang pohon itu.’ Maka ia mendekati pohon tersebut untuk menebangnya sebagai bentuk marahnya karena Allah. Maka syetan menemuinya dalam bentuk manusia dan berkata, ‘Engkau mau apa?’ Orang itu berkata, ‘Saya hendak menebang pohon ini karena disembah selain Allah.’ Syetan berkata, ‘Jika engkau tidak menyembahnya, maka bukankah orang lain yang menyembahnya tidak membahayakanmu?’ Berkata lelaki itu, “Saya tetap akan menebangnya.’

Berkata syetan, ‘Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagimu? Engkau tidak menebangnya dan engkau akan mendapatkan dua dinar setiap hari. Jika engkau bangun pagi, engkau akan dapatkan di bawah bantalmu.’ Berkata si lelaki itu, ‘Mungkinkah itu terjadi?’ Berkata syetan, ‘Saya yang menjaminnya.’


Maka kembalilah lelaki itu, dan setiap pagi mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya. Pada suatu pagi ia tidak mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya, sehingga marah dan akan kembali menebang pohon. Syetan menghadangnya dalam wujud aslinya dan berkata, ‘Engkau mau apa?’


Berkata lelaki itu, ‘Saya akan menebang pohon ini karena disembah selain Allah.’ Berkata syetan, ‘Engkau berdusta, engkau akan melakukan ini karena diputus jalan rezekimu.’ Tetapi lelaki itu memaksa akan menebangnya, syetan memukulnya, mencekik dan hampir mati, kemudian berkata, ‘Tahukah kau siapa saya?’ Maka ia memberitahukan bahwa dirinya adalah syetan.


Syetan berkata, ‘Engkau datang pada saat pertama, marah karena Allah. Sehingga saya tidak mampu melawanmu. Oleh karena itu saya menipumu dengan dua dinar. Dan engkau tertipu dan meninggalkannya. Dan pada saat engkau tidak mendapatkan dua dinar, engkau datang dan marah karena dua dinar tersebut, shingga saya mampu mengalahkanmu.'”

7.     Meraih kecintaan Allah. Ketika orang beriman beribadah, baik ibadah yang wajib maupun sunnah, dan dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah, pasti mereka meraih kecintaan Allah. Merekalah kekasih-kekasih Allah. Disebutkan dalam hadits Al-Qudsyi, “Jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan yang sunnah, maka Aku mencintainya.” (HR Al-Bukhari)

8.     Meraih kecintaan manusia. Ketika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka seluruh makhluk dapat digerakkan untuk mencintai hamba tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Jika Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintai Fulan. Kemudian Jibril memanggil penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan. Oleh karena itu cintailah Fulan.’ Maka penduduk langit mencintai Fulan. Kemudian ditetapkan baginya penerimaan di bumi.” (Muttafaqun ‘alaihi).

9.     Meraih kemenangan di dunia dan pahala yang besar di akhirat (lihat surat Ash-Shaff: 10-13). Orang beriman tentulah orang yang ikhlas dan berhak mendapat kemenangan dunia dan pahala besar di akhirat kelak.

 

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga keimanan kita, menjaga keikhlasan kita dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad. Amiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarkatuh

Abdul Gaffar

 

Optimalkan Potensi Diri Mengendalikan Nafsu Dunia dengan Taat Beribadah dan Beramal shaleh untuk meraih Kemuliaan Dunia Akhirat

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Bapak-ibu sahabat sehati yang dirahmati Allah, Alhamdulillah Allah karuniakan kita kesempatan hidup serta kemudahan untuk semakin istiqamah taat beribadah, berihtiar, berdo'a, bersyukur, bersabar dan segera bertaubat denang ikhlas serta bertawakkal dengan saling mengingatkan, mengarahkan  kejalan yang benar dengan sabar agar Allah karuniakan kebahagiaan dan kemuliaan hidup dunia akhirat.

 

Optimalkan Potensi Diri Mengendalikan Nafsu Dunia dengan Taat Beribadah dan Beramal shaleh untuk meraih Kemuliaan Dunia Akhirat

 

Dua alam ciptaan Allah, alam dunia dan alam akhirat, mutlak berbeda dalam karakteristik dan esensi wujudnya. Walaupun begitu setiap manusia pasti memasuki dan bergumul di dalamnya. Tak seorang pun dapat menghindar dari keberadaan di dalam alam dunia dan alam akhirat.

Oleh karena kedua alam, baik secara realitas sejatinya ataupun karakteristiknya berbeda,setiap manusia diberikan potensi untuk dapat menyempurnakan eksistensi dirinya di dalam kedua alam tersebut sehingga dapat meraih puncak kesempurnaannya.Meskipun pada kenyataannya sebagian besar manusia justru mengalami kegagalan sebelum merealisasikan kesempurnaannya secara utuh.

.

Alam dunia, dengan segala watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan sedangkan alam akhirat adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan rumah kita yang abadi.

Oleh karena itu meskipun kita dilahirkan di dunia, dan dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun realitas sejatinya, setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh menuju tempat kembali hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah kita akan dihadapkan kepada berbagai peristiwa yang belum pernah kita jumpai selama hayat kita.

Di tempat kembali itu masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai makhluk moral yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita selama di dunia.

Di sana pula akan terbukti jati diri kita yang sebenarnya, menjadi individu yang sejatinya terhormat mencapai kebaikan tertinggi atau bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam lumpur keburukan.

Allah Swt telah menunjuki manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang layak dalam penciptaan, di surga-Nya. Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan agar menempuh jalan-Nya meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar.

Tidak sepatutnya di dunia yang fana ini menjadi tumpuan hidup. Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah karena tunduk kepada pesonanya dan tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menghimpun aset untuk kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad [90]: 11).

Bukan harta yang akan menjadi aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta menjadi simbol kemuliaan dunia. Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai tanggungjawab moral yang harus ditunaikan.

 

Dalam satu riwayat dikatakan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.” Bahkan harta bisa memperbudak orang yang mencintainya. Orang yang menjadikan kekayaan harta benda sebagai standar keagungan seseorang akan membenci kematian.

Padahal kematian itu adalah pintu pertemuan dengan Allah Swt yang pasti akan diketuk oleh setiap manusia. Bahkan karena cintanya kepada harta ia tidak rela berpisah darinya.

Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak harta.

Meski demikian, harta selalu menjadi perburuan demi mendapatkan kemudahan, keberhasilan, kesuksesan, serta mencapai kemuliaan dalam hidup ini. Di zaman sekarang ini mengejar kekayaan dan meraih kekuasaan materi, seolah telah menjadi mindset dan orientasi hidup, sehingga seringkali untuk mendapatkannya orang tidak peduli lagi memikirkan cara yang benar atau tidak, layak atau tidak layak dengan status sosial dan kemanusiaannya.

Padahal Allah menjelaskan bahwa amal salih kitalah aset sejati bagi kehidupan di akhirat nanti. Amal shalih pula yang menjadi kendaraan perjalanan jauh kita menuju haribaan-Nya. Setiap perjalanan, lebih-lebih perjalanan jauh dan menentukan, memerlukan kendaraan dan bekal.

Oleh sebab hakikat hidup di dunia adalah sebuah perjalanan jauh menuju alam akhirat dan medan perjuangan meraih kebahagiaan sejati, maka kita harus mampu melintasi segala rintangan yang mungkin terhampar di tengah jalan.

Rasulullah Saw mengingatkan, ”Jalan menuju surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak diisukai, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan syahwati.” (HR, Muslim)

Selamat mengoptimalkan seluruh potensi yang Allah karuniakan hanya untuk meraih kemuliaan dunia akhirat.

 

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarkatuh

Abdul Gaffar

 

Kisah Semut Yang Tawakkal

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Bapak-ibu sahabat sehati yang di rahmati Allah,alhamdulillah Allah akruniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah taat beribadah,berihtiar,berdo'a,bersyukur, bersabar dan segera bertaubat dengan ikhlas serta bertawakkal dengan saling mengingatkan, mengarahkan kejalan yang benar dengan sabar agar Allah karuniakan kebahagiaan dan kemuliaan hidup dunia akhirat

Di zaman Nabi Sulaiman terjadilah suatu peristiwa, waktu itu Nabi Sulaiman melihat seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Sulaiman merasa takjub dan heran bagaimana semut tersebut bisa bertahan hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang gersang dan tandus. Nabi Sulaiman pun bertanya kepada semut itu: “ Wahai semut bagaimana cara kamu dapat makanan? Apakah kamu yakin bisa memperoleh makanan yang cukup untuk kamu bisa bertahan hidup”.

Semut pun menjawab: “Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus seperti ini pun pasti tersedia rezeki untuk ku”.Lantas Nabi Sulaiman pun bertanya: ” Wahai semut, seberapa banyakkah engkau makan? Jenis makanan apakah yang engkau sukai? Dan berapa banyak makanan yang engkau makan dalam satu bulan?”

Jawab semut: “Aku makan hanya sekadar sebiji gandum setiap satu bulan”.

Nabi Sulaiman pun kemudia berkata: “Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tidak lah sulit bagimu melata di atas batu, aku bahkan bisa membantumu”. Nabi Sulaiman pun mengambil sebuah kotak, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalamnya; kemudian Nabi mengambil gandum sebiji, dibubuhkan kedalam kotak dan kemudian di tutup lah kotak tersebut.

Kemudian Nabi meninggalkan semut di dalam kotak yang tertutup dengan sebiji gandum didalamnya untuk jatah makanan semut selama satu bulan. Akhirnya satu bulan kemudian Nabi Sulaiman kembali untuk bertemu dan melihat keadaan sang semut. Terlihatlah gandum yang sebiji hanya dimakan setengah saja oleh si semut, lantas Nabi Sulaiman berkata dengan suara yang meninggi: “Kamu rupanya berbohong padaku! Bulan lalu kamu katakan kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan lewat tapi kamu hanya makan setengahnya”.

Jawab semut: “Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum untuk satu bulan, itu karena makanan yang aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya dari Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku. Tetapi bila kamu masukkan aku dalam kotak yang tertutup, rezekiku bergantung padamu dan aku tak percaya kepada mu, itulah sebabnya aku makan setengah saja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa…”.

Akhirnya Nabi Sulaiman tersenyum dan mengerti dengan penjelasan semut tersebut…

Pesan moral dari kisah Semut yang tawakkal.

Demikianlah seekor semut sahabat Nabi Sulaiman telah mengajarkan kita makna hakiki sebuah kemerdekaan, sebuah kemandirian. Kebebasan yang sejati adalah manakala kita hanya menggantungkan keyakinan diri kita hanya kepada Tuhan sang Khalik, Sang Pencipta. Dan tidak menggantungkan diri kita kepada selain Nya, yang bernama makhluk, yang diciptakan.

Inilah harga diri yang mesti kita tanamkan, inilah martabat dan kemulyaan orang yang beriman. Dengan keyakinan tersebut sejarah mencatat peradaban umat manusia telah ditulis dengan tinta emas betapa kemulyaan perjuangan para Nabi yang diwariskan kepada umat manusia. Inilah prinsip perjuangan seluruh Nabi untuk menundukkan diri hanya kepada Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi Nya.

Dalam Agama telah sangat jelas disebutkan bahwa manusia yang merdeka, manusia yang mempunyai jiwa yang lapang adalah manusia yang sholatnya, ibadahnya, hidupnya, serta matinya hanya untuk Allah semata. Sesungguhnya inilah makna yang sebenarnya dari konsepsi keesaan Tuhan.

Manakala setiap tutur kata dan tingkah laku kita senantiasa terjaga dari hal yang sia-sia, terjaga dari keburukan, karena dalam diri telah tertancap keyakinan bahwa segala perkataan dan perbuatan kita senantiasa diawasi oleh Allah tanpa satu detikpun terlewatkan. Bahkan niat kita yang masih didalam hatipun Allah mengetahui. Sehingga dari keyakinan tersebut, timbul kesadaran untuk mendedikasikan hidup dan kehidupan kita karena Allah semata.

Sebagai seorang beriman tidak perlu ada keresahan, kegalauan, atau ketakutan dalam diri. Sesungguhnya Allah Maha Benar, Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kelaparan atau apapun permasalahan yang dihadapi manusia bukanlah bentuk kebencian atau ketidak pedulian Allah. Karena Tuhan tak pernah menganiaya hambanya, Dia tidak mungkin berbuat zalim.

Inilah prinsip dan keyakinan Ilahiah yang mesti ada dalam diri-diri setiap insan, laksana akar dari pohon yang membuat kokoh dan akan menghasilkan buah yang bisa dinikmati sekaligus tempat berteduh banyak orang. Laksana Pondasi sebuah bangunan yang menopang sebuah gedung, menopang manusia yang tinggal diatasnya, memberikan perlindungan dan keamanan terhadap panas, hujan, angin bahkan gempa.

Sekiranya diantara kita ada yang masih menganggur belum bekerja jangan pernah berputus asa, karena rezeki bukan hanya dengan cara bekerja pada suatu perusahaan. Sekiranya anda belum dapat melanjutkan sekolah, jangan pernah pesimis dengan masa depan karena kebahagiaan dapat ditempuh dengan berbagai cara. Sekiranya diantara kita ada yang sakit, pantang menyerah untuk berobat dan bersabar karena Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan amal dan upaya kita.

Ketika segenap permasalahan menimpa seseorang, itulah cara Allah menguji keimanan hamba-Nya. Saat permasalahan yang datang bertubi-tubi dihadapi serta diselesaikan dengan bijak, sabar, dan bertawakal kepada Allah, maka hamba tersebut adalah orang beruntung yang menyelesaikan ujian dari Allah dengan predikat “lulus”. Allah berjanji bahwa saat hambanya menghadapi permasalahan dengan keimanan sehingga ia lulus dari ujian tersebut, maka Allah naikkan derajatnya sebagai seorang yang bertakwa.

Saat manusia menyandarkan segala sesuatunya kepada makhluk atau benda yang akan didapat hanyalah ketidak sempurnaan serta kekecewaan. Bisa jadi di awal dia akan mendapat keuntungan tetapi itu hanya kesenangan sesaat. Namun bila kita menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah, maka ketentraman dan kebahagiaan sejati yang akan kita dapat. Karena Allah Maha Sempurna lagi Maha Penguasa setiap makhluk. Menyandarkan hidup hanya kepada Allah adalah solusi dalam menghadapi segala cobaan dan permasalahan kehidupan.

Oleh karena itu mari pahami terlebih dahulu makna syahadat kita: Kosongkan dulu semuanya, hilangkan kepercayaan anda terhadap apapun, siapapun. Kosongkan terhadap segala kepercayaan yang palsu dan semu. La Ilaha ILALLAH!!!!!! Tiada Tuhan Yang Disembah Selain Allah Ta’ala!!!! Langkah pertama, meniadakan seluruh sesembabahan kepada apa saja selain Allah, Setelah itu tanamkan dan benamkan seluruh keadaran dan hati anda bahwa sesungguhnya yang satu-satunya perlu diyakini keberadaan dan eksistensinya nya hanya Allah semata. Tiada ibadah yang harus dipersembahkan melainkan untuk Allah semata. Tiada yang perlu dituju kecuali menuju Allah semata.

Dengan demikian, manusia yang beriman tidak akan pernah dan tidak akan mau menerima uang SOGOKAN. Dia akan meyakini bahwa rezeki didapat bukan dengan cara-cara seperti itu. Dia akan mencontoh keyakinan seekor semut seperti cerita diatas. Dan jangan sampai iman manusia dikalahkan oleh iman seekor semut!

Dan Janganlah kalian terlalu cepat mengambil keputusan dan persangkaan sebelum kamu mempelajarinya terlebih dahulu dan mendengar penjelasan dari pihak pihak yang terkait.

Semoga Bermanfaat.

Wassalamu'alaikum  Warahmatullahi  Wabarakatuh

Abdul Gaffar

 

Continuous Improvement menuju Ridha Allah

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Bapak-ibu sahabat sehati yang dirahmati

Allah, Alhamdulillah Allah karuniakan kita kesempatan hidup serta kemudahan untuk semakin istiqamah taat bribadah, berihtiar, berdo'a,bersyukur, bersabar dan segera bertaubat dengan ikhlas serta bertawakkal dengan saling mengingatkan, mengarahkan kejalan yang benar dengan sabar agar Allah karuniakan kebahagiaan dan kemuliaan hidup dunia akhirat

 

Continuous Improvement menuju ridha Allah

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Surat Alhasyr, ayat 18).

 

Ayat ini telah mengajarkan kepada kita suatu hal yang sangat mendasar dari Time Management dalam cakupan waktu yang lebih luas. Jika biasanya hanya mencakup kemarin, besok, dan sekarang, dalam ayat ini dibahas waktu di dunia dan di akhirat. Karena memang, keterbatasan waktu kita di dunia harus bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk mendapatkan tempat yang terbaik di sisiNya.

 

Tidak terbatas pada Time Management, tapi juga Life Management. Manajemen hidup sebagai muslim,yang berorientasikan mencari ridha Allah dan hari Akhir. Menjadikan perbuatan di dunia sebagai wasilah menuju Allah. Ingat! Tujuan penciptaan kita adalah untuk beribadah kepada Allah. Dalam keseharian, kita juga tidak boleh melupakan kedudukan kita di dunia. Keduanya kita jadikan sarana untuk menambah perbendaharaan amal shalih. Pesan-pesan yang terkandung dalam ayat tersebut adalah keterbatasan waktu yang kita miliki. Waktu yang kita miliki tidaklah panjang, begitupun dengan masa hidup kita. Lantas bagaimana kemudian kita menggunakannya dengan baik dan benar? Adalah dengan beramal shalih. Jikalau tidak? Maka pastilah kita akan merugi. 

Inna l-insaana lafii khusrin. Sungguh seluruh manusia berada dalam kerugian. Seperti yang sudah termaktub dalam surat Al-‘Ashr. Allah memberikan pengecualian kepada orang-orang dengan kriteria tertentu :

1) beriman 2) beramal shaleh 3) saling menasehati dalam kebenaran 4) saling menasehati dalam kesabaran). Hal-hal itulah yang harus mendapatkan perhatian utama dalam hidup

 

Sungguh Orang Beriman juga manusia, bukanlah Malaikat yang tak pernah salah dan tak pernah cela.   

 

Tapi ada yang istimewa dari orang beriman.

Saat ia khilaf,ia segera bertaubat dan menyesal serta tak mengulanginya.  

Saat ia lemah dan malas,ia segera bangkit dan melipat gandakan ibadah  & amal dengan segala potensi yang dimilikinya. Saat ia terlena, ia segera sadar dan kembali tawazun,memburu akherat  tanpa meninggalkan dunia-nya. 

Itulah yang membedakannya dengan kebanyakan manusia. Ia tak pernah menyerah dan tak pernah berhenti memperbaiki diri Inilah “Continuous Improvement”, Perbaikan Berkelanjutan,menurut cara Orang Beriman Ia melakukan perbaikan dari dirinya sendiri,dari hal yang paling kecil,dari sekarang juga tanpa mengenal kata berhenti.

Ia melakukannya dengan ikhlas, mengharap ridha Allah SWT semata"

 

Selamat berintrospeksi diri dan segera melakukan perbaikan menuju ridha dan hidayah Allah.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarkatuh
Abdul Gaffar

 

Belajar Dari Pensil

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Bapak-ibu sahabat sehati yang di rahmati Allah,alhamdulillah Allah akruniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah taat beribadah,berihtiar,berdo'a,bersyukur, bersabar dan segera bertaubat dengan ikhlas serta bertawakkal dengan saling mengingatkan, mengarahkan kejalan yang benar dengan sabar agar Allah karuniakan kebahagiaan dan kemuliaan hidup dunia akhirat

Belajar Dari Pensil


Bismillaahir rahmaanir rahiim
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang” Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,(QS al-Qalam (68): 1) Firman Allah: wal qalami (“Demi kalam”)secara lahiriyah,tampak bahwa ia sejenis dengan pena yang dipergunakan untuk menulis.
Seperti pada firman Allah yang artinya: “Bacalah, dan Rabb-mu lah yang Paling Pemurah yang mengajarkan [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya".  (al-‘Alaq: 3-5). Yang demikian itu merupakan sumpah dari Allah Ta’ala sekaligus peringatan bagi makhluk-Nya atas apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka, berupa pengajaran tulis-menulis yang dengan-nya ilmu pengetahuan diperoleh.

Apa yang ada dalam fikiran kita ketika melihat Pensil?
Dapatkah kita mengambil pelajaran dari Pensil yang sering kita gunakan?

Nasehat seorang Ibu yang shalehah kepada anaknya tentang Hikmah Pensil.

Ketika seorang anak yang bertanya kepada Ibunya : Bunda sedang menulis apa? kenapa Bunda rajin menulis?
Mendengar pertanyaan anaknya,sang Ibu berhenti menulis dan berkata kepada anaknya.
Bunda sedang menulis tentang kamu agar Bunda bisa memahami perkembangan karakter yang Allah karuniakan kepada kamu. Selain itu Bunda juga berharap agar kita seperti Pensil yang sering Bunda pake menulis.

Mendengar jawaban sang Ibu,anak yang shaleh dan cerdas bertanya lagi,apa istimewanya dengan Pennsil yang Bunda pake?
Pensil yang Bunda pake,sama saja dengan Pensil yang lain..?

Si Ibu menjawab dengan penuh kasih sayang, memang Pensil yang Bunda pake tidak ada yang istimewa dibanding dengan Pensil yang lain,tapi kita harus dapat mengambil hikmah dari 5 manfaat Pensil agar kita bisa hidup tenang dalam menjalani hidup.

Apa manfaat Pensil yang 5 itu Bunda?

1.   Pensil dapat mengingatkan kita kalau kita dapat berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kita jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kita dalam hidup ini. Dialah Allah akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.
Pensil dituntun oleh tangan,Jadikan penuntun Kita adalah Allah Swt

2.   Dalam proses menulis,Bunda kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil Bunda. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mndapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kita,dalam hidup ini kita harus berani menerima penderitaan dan kesusahan,karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

3.   Pensil selalu memberikan kita kesempatan utk mempergunakan penghapus,utk memperbaiki tulisan yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
Penghapus selalu membenarkan tulisan kita dengan menghapus tulisan yang salah.

      Kita juga harus mendengar nasehat orang lain apabila kita salah dan segera introspeksi diri.

4.   Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya,melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu,selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam diri kita”.
Dalam hal ini yang ada dalam diri kita adalah hati dan nafsu, akal dan fikiran dan semua yang berasal dari dalam diri kita. Harus selalu kita kendalikan.

5.   Pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Begitu juga kita, kita harus sadar kalau apapun yang kita perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”
kita pun demikian,apa yang kita perbuat akan meninggalkan goresan baik atau buruk yang nantinya akan di hisab,maka berhati hatilah akan setiap goresan yang kita perbuat.


Selamat menjadi pribadi yang terbaik dengan semakin istiqamah dalam hidayah Allah dan beramal shaleh dengan ikhlas.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarkatuh
Abdul Gaffar