YPIT Mutiara

Lima Tips Menuju Hidup Istiqamah

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang beriman, bertaqwa,dan berahlaq mulia, calon penghuni surga yang dirahmati Allah, semoga Allah karuniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah taat beribadah, berhtiar, berdo'a, bertawakkal, bersabar, bersyukur dan segera bertaubat dengan ikhlas serta saling mengingatkan,mengarahkan ke jalan yang benar dengan sabar.

Lima Tips Menuju Hidup Istiqamah

Kesucian dan ketakwaan yang ada dalam jiwa harus senantiasa dipertahankan oleh setiap muslim. Kesucian dan ketakwaan bisa mengalami pelarutan, atau bahkan hilang sama sekali. Insya Allah dengan kita memahami dan mengamalkan Lima tips membuat seorang muslim bisa mempertahankan nilai ketakwaan dalam jiwanya, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya.

Pertama, Muraqabah

Muraqabah adalah perasaan seorang hamba akan selalu dalam kontrol ilahi dan kedekatan dirinya kepada Allah.Hal ini diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.


“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam diatas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid: 4)

 

Rasulullah saw. bersabda-ketika ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (H.R. Bukhari)


Kedua, Mu’ahadah

Mu’ahadah yang dimaksud di sini adalah iltizamenya seorang atas nilai-nilai kebenaran Islam. Hal ini dilakukan kerena ia telah berafiliasi dengan Nya dan berikrar di hadapan Allah SWT.


Ada banyak ayat yang berkaitan dengan masalah Mu'ahadah.

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (An-Nahl: 91)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”(Al-Anfal: 27)


Ketiga, Muhasabah

Muhasabah adalah usaha seorang hamba untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya, baik sebelum maupun sesudah melakukannya. Allah berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ”(AlHasyr: 18)“
Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya.Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan ber angan-angan pada Allah.” (H.R. Ahmad)

 

Umar bin Khattab ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”


Keempat, Mu’aqabah

Mu’aqabah adalah pemberian sanksi oleh seseorang muslim terhadap dirinya sendiri atas keteledoran yang dilakukannya.


“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 179)

 

Generasi salaf yang sholeh telah memberikan teladan yang baik kepada kita dalam masalah ketakwaan, muhasabah, mu’aqabah terhadap diri sendiri jika bersalah, serta contoh dalam bertekad untuk lebih taat jika mendapatkan dirinya lalai atas kewajiban. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa contoh:

 

1.    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata,“Aku pergi hanya untuk esbuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”

 

2.    Ketika Abu Thalhah sedang shalat, di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut, beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang orang miskin, sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.


Kelima Mujahadah (Optimalisasi)

Mujahadah adalah optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.


“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…”(Al-Hajj: 77-78)“ Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Aisyah ra. pun bertanya, ‘Mengapa engkau lakukan hal itu, padahal Allah telah menghapuskan segala dosamu?’ Maka, Rasulullah saw. menjawab, ‘Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur.'” (H.R. Bukhari-Muslim).

 

Inilah lima langkah yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang ingin mempertahankan nilai keimanan, yang ingin bertahan dan istiqamah di puncak ketakwaannya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hambanya Nya yang senantiasa istiqamah, menjadi model-model muslim ideal dan akhirnya kita dijanjikan surga-Nya.amin.

 

Selamat menjadi pribadi yang istiqamah dalam ketaatan kepada Allah.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarkatuh

 

Abdul Ghaffar

Istiqamah Dalam Kehidupan

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang beriman, bertaqwa, dan berahlaq mulia, calon penghuni surga yang dirahmati Allah, semoga Allah karuniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah taat beribadah, berihtiar, berdo'a, bertawakkal, bersabar, bersyukur dan segera bertaubat dengan ikhlas serta saling mengingatkan, mengarahkan kejalan yang benar dengan sabar.

Istiqamah Dalam Kehidupan

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwala kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran:102-103)

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-pernuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada me nyia-nyuakankan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (Hud:112-115)

Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad rasulnya, ia harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai kebaikan dalam kondisi aman maupun terancam. Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena ummat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu mengimplementasikan dalam seluruh kisi-kisi kehidupannya. Dan orang yang mampu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitment dan istiqamah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.

Secara terminology, istiqomah bisa diartikan dengan beberpa pengertian:
Abu Bakar Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqamah ia menjawab; bahwa istiqamah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)

Umar bin Khattab r.a. berkata: “Istiqamah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipu musang”

Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqamah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”

Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”

Hasan Bashri berkata: “Istiqamah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan”

Mujahid berkata: “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt”

Ibnu Taimiah berkata:“Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kpd-Nya tanpa menengok kiri kanan”

Jadi muslim yang beristiqamah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Ia bak batu karang yang tegar mengahadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degredasi dlm perjalanan hidupnya. Ia senantiasa sabar dalam memegang teguh tali keimanan. Dari hari ke hari semakin mempesona dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam. Ia senantiasa menebar pesona Islam baik dalam ruang kepribadiannya, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Itulah cahaya yang selalu menjadi pelita kehidupan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan kehidupan. Allah berfirman;

“ Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya karena kekufuran) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am:122)

Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(Hud:112)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”,kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.(Al-Ahqaf:13-14)

Selamat menjadi pribadi yang istiqamah dlm ketaatan kepada Allah sampai akhir hayat.

Wasssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarkatuh

 

Abdul Ghaffar

Sudahkah Kita Mempersiapkan Diri Menyambut Bulan Ramadhan?

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang beriman, bertaqwa,dan berahlaq mulia, calon penghuni surga yang dirahmati Allah, semoga Allah karuniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah taat beribadah, berihtiar, berdo'a, bertawakkal, bersabar, bersyukur dan segera bertaubat dengan ikhlas serta saling mengingatkan, mengarahkan ke jalan yang benar dengan sabar.

SUBHANALLAH walhamdulillah wala ilaha illallaah wallahu akbar…

Marhaban ya syahru Ramadhan…
Selamat datang bulan yang penuh kemuliaan
Selamat datang bulan yang penuh rahmah dan pengampunan…

Mahhaban ya Ramadhan, marhaban
Mari kita sambut dengan penuh suka cita bulan suci Ramadhan.
Alhamdulillah, kesyukuran tiada tara bagi kita yang dipertemukan kembali dengan bulan  Ramadhan yang penuh rahmat dan berkah.

Subhanallah, maha indah bulan Ramadhan. Meskipun secara hitungan sama dengan bulan lain, 30 atau 29 hari, tapi dalam pandangan Allah SWT hitungan dan nilainya berbeda. Karena begitu istimewa dan spesialnya, maka sudah spatutnya umat Islam memperlakukannya dengan istimewa dan spesial. Ia juga momentum bagi umat untuk giat beribadah, akrab mendekatkan diri kapada Allah SWT, sekaligus memperbaiki diri bagi sesama.

Pasca Ramadhan, betapa indahnya bila kita dapat mempertahankan kekuatan Ramadhan di bulan-bulan lain, sehingga kita dapat menjadikan Ramadhan hadir dalam hidup kita. Karena Ramadhan sejatinya merupkan bulan latihan, bulan pendidikan, bulan penggembelengan, bulan cinta, dan bulan keinsyafan secara massif pada setiap pribadi Muslim.

Semoga Allah karuniakan kemudahan kepada kita merencanakan dan menjalani bulan suci Ramadhan dengan penuh kekuatan Iman. Mari kita berusaha untuk menjadikan Ramadhan sebagai power buat kita. Dan selepas Ramadhan,kita jaga sikap dan perilaku kita agar terkondisikan dengan dampak power Ramadhan.

Bapak-Ibu sehabat sehati dan seiman yang dirahmati Allah, tidak terasa bulan suci, bulan magfirah, bulan penuh rahmat, bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan yang didalamnya terdapat lailatul qadr yang dinanti-nati sudah dihadapan mata. Hanya hitungan hari menuju bulan mulia itu. Karena kemuliaan dan spesialnya bulan tersbut maka sudah seharusnya kita sebgai ummat Islam mempersiapkan diri dan keluarga.

Semoga Allah karuniakan kita kemudahan untuk mempersiapkan bekal di bulan Ramadhan. Tujuan mempersiapkan bekal untuk mengoptimalkan ibadah kita pada bulan yang di dalamnya terdapat malam lebih baik dari 1000 bulan. Ada beberapa hal yang penting untuk dipersiapkan antara lain:

Persiapan Ruhiyah
Persiapan Jasadiyah
Persiapan Maliyah
Persiapan Fikriyah

Oleh karena itu, ketika kita mau beramal tentulah harus mempunyai ilmu, agar ibadah shaum ramadhan kita sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW.

 

Cara effektif untuk mempersiapkan diri antara lain dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan.

Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan berbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa,dan mengamalkannya dengan ikhlas.
 
Semoga persiapan kita mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai yang terbaik dalam sejarah Ramadhan yang pernah kita lalui. Semoga ibadah shaum yang akan kita laksanakan menjadikan kita sebagai pribadi yang bertaqwa sampai akhir hayat.


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarkatuh
Abdul Gaffar.

Menghidupkan Hati dengan Silaturahim

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang beriman, bertaqwa, dan berahlaq mulia, calon penghuni surga yang dirahmati Allah, semoga Allah karuniakan kita kemdahan untuk semakin istiqamah taat beribadah, berihtiar, berdo'a, bertawakkal, bersabar, bersyukur dan segera bertaubat dengan ikhlas serta saling mengingatkan, mengarahkan ke jalan yang benar dengan sabar.

Menghidupkan Hati dengan Silaturahim Hati akan hidup jika dimasuki cahaya keimanan.Tapi cahaya itu akan cepat padam jika tidak dipelihara.

Cahaya Al-Qur’an

Berapa kali kita akan khatam tilawah Al Qur’an di bulan Ramadhan ini? Pertanyaan ini sering kita dengar setiap kali bulan Al-Qur’an akan tiba dan hampir pergi. Bahkan banyak di antara kita berlomba dengan teman-teman dalam banyaknya khataman tilawah. Ketika ditanya tentang motivasinya, dia menjawab,“Ingin mengumpulkan pahala sebanyak mungkin.”

Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk tujuan dikhatamkan ber kali-kali. Al-Qur’an diturunkan untuk menghidupkan hati, sehingga hati terpenuhi dengan iman, lalu menggerakkan untuk melakukan amalan kebaikan.

Walaupun kita sudah khataman Al-Qur’an puluhan bahkan ratusan kali, jika bacaan kita tidak disertai dengan pemahaman sehingga hati pun tidak tergetar dan terpengaruhi. Sudahkah ada perubahan dalam diri kita setelah itu?.

Secara kebiasaan, orang membaca buku pasti dengan tujuan untuk memahaminya. Wajarkah orang membaca sebuah buku hanya dengan lisannya tanpa menyertakan akalnya? Tanpa berusaha untuk memahami huruf-huruf yang dibacanya? Lalu dia membacanya sampai selesai, terus diulangi puluhan kali?

Agar Cahaya Tak Kunjung Padam

Ketika kita membaca Al-Qur’an, memahaminya dengan akal dan merenunginya dengan hati, maka kita itu akan menemukan bahwa silaturahim bukanlah hal biasa. Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat bukan sekadar perbuatan mulia yang bisa saja ditinggalkan. Tidak ada konsekuensinya dengan surga dan neraka.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat.” [An-Nisa’: 36].

Dalam ayat ini birrul walidain dan silaturahim disebutkan setelah perintah bertauhid kepada Allah Ta’ala dan larangan berbuat syirik. Dua hal yang sangat penting dan berat konsekuensinya. Hal itu menunjukkan bahwa birrul walidain dan silaturahim juga mempunyai konsekuensi yang berat.

Rasulullah saw. bersabda:

“Berbuat dhalim dan memutus hubungan silaturrahim adalah dosa yang paling layak untuk Allah swt. segerakan siksaannya di dunia, sebelum siksaan yang disimpan sampai hari Akhirat.” [HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad].

Adanya rasa takut kepada siksaan Allah Ta’ala di dunia dan akhirat menunjukkan hidupnya hati. Hendaknya hal itu menjadi motivasi untuk selalu menjaga hubungan silaturahim.

Semoga Allah karuniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah menjaga hubungan dengan Allah dalam bentuk semakin taat beribadah dan menjaga silaturrahim dengan karib kerabat dalam bermuamalah dengan saling mengingatkan, mengarahkan, mendo'akan dan memaafkan dengan ikhlas.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Abdul Ghaffar

Nikmatnya Istiqamah Dalam Kebenaran

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ 
‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang beriman, bertaqwa,dan berahlaq mulia, calon penghuni surga yang dirahmati Allah, semoga Allah karuniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah taat beribadah, berihtiar, berdo'a, bertawakkal, bersabar, bersyukur dan segera bertaubat dengan ikhlas serta saling mengingatkan, mengarahkan ke jalan yang benar dengan sabar.

Nikmatnya Istiqamah Dalam Kebenaran

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim
” (QS.Hud:112-113)

Suatu umat atau bangsa, jika berada dalam situasi tertekan dan tertindas secara terus menerus, maka akan mengalami tiga kondisi keadaaan :

Pertama, mereka akan merasa letih dan lemah sehingga mereka berputus asa dan merasa perjuangan selama ini sia-sia, lalu mereka tidak mau lagi berjuang.

Kedua, bisa jadi mereka mengambil langkah perjuangannya dengan tidak sabar sehingga melakukan tindakan kekerasan dan bersifat radikal dalam menghadapi kezaliman yang dihadapinya.

Ketiga, bisa jadi mereka menyerah dan tunduk mengikuti kemauan musuh serta manut apa yang diinginkan musuh.


Ketiga, kondisi ini akan dialami suatu kaum atau bangsa jika suatu umat atau bangsa itu tidak mempunyai rasa percaya kepada Tuhannya.

Allah SWT menurunkan ayat di atas agar umat Islam tidak mengambil langkah yang salah lalu paserah menyerah, atau melakukan tindakan anarkis, atau mangikuti begitu saja pada keinginan musuh.
Ayat di atas memerintahkan kepada kita untuk bersifat tawazun (berkeseimbangan) dalam mengambil tindakan.

Ada tiga tindakan yang harus ditempuh yang dipesankan oleh Allah SWT saat kita menghadapi ketertekanan :

Pertama, Tetap istiqomah (fastaqim) “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar”. Kita dianjurkan untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ajaran Islam dan dalam melanjutkan perjuangan (dakwah). Kita tidak boleh merasa letih dan lemah apalagi berputus asa. Sebab Allah tetap akan mencatat pahala perjuangan kita, meskipun hasil perjuangan itu belum terlihat saat ini.

Dalam rangka menjaga keistiqomahan dalam menjalankan ajaran islam dan dalam memperjuangkannya, kita harus bersama barisan orang-orang yang pandai mendekatkan diri kepada Allah (orang-orang shaleh). Perhatikan ayatnya “wa man taaba ma’ak” (dan orang-orang yang telah taubat beserta kamu). Jika kita hidup sendiri, maka syetan dan godaannya akan selalu mengintai orang yang hidup menyendiri.

Kedua, Allah memerintahkan agar kita jangan mengambil tindakan anarkis destruktif. (Wa laa tathghou) “Dan janganlah kamu melampaui batas” . Sebab, perbuatan melampaui batas dengan melakukan tindakan anarkis dan radikal hanya akan memperburuk citra Islam dan umat Islam itu sendiri.

Ketiga, Allah memerintahkan kita, meskipun dalam kondisi sulit dan tertekan, untuk tidak tunduk kepada keinginan musuh dari kalangan orang kafir dan zalim. (Wa laa tarkanuu ilalladzina Zholamuu) “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim”. Sebab, sifat tunduk pada keinginan musuh hanya akan menghilangkan izzah (wibawa/kemuliaan).

Surat Hud ayat 112-113 ini turun di Makkah pada saat Rasulullah saw dan umat islam menghadapi intimidasi dan tekanan dari orang-orang Quraisy.

Allah memberi pesan kepada mereka agar istiqomah dalam menjalankan ajaran Islam dan berdakwah, tidak melakukan tindakan anarkis, namun juga tidak tunduk begitu saja kepada kemauan dan tawaran orang-orang kafir.

Selain itu surat Hud secara keseluruhan juga berisi contoh-contoh para Nabi yang sabar dan istiqomah dalam menjalankan risalah dakwahnya. Seperti dalam surat itu diceritakan kisah nabi Nuh as yang bersabar dan istiqomah dalam menjalankan dakwahnya. Nabi Nuh as bedakwah tidak kurang memakan waktu 950 tahun, namun umat manusia hanya sedikit yang mengikuti ajaran beliau.

Slain itu, Nabi Nuh as juga diperintahkan oleh Allah SWT untuk membuat bahtera (perahu besar) yang memakan waktu –menurut sebagain ahli Tafsir– sekitar 300 tahun. Bukankah Allah mampu menimpakan musibah kepada kaumnya dengan tiba-tiba? Mengapa harus memerintahkan nabi Nuh as untuk membuat bahtera yang memakan waktu 300 tahun segala? Karena disana ada pesan agar kita bersabar dan tetap taat dengan perintah Allah SWT, meskipun hasil perjuangan hanya milik Allah SWT.

Selain itu, nabi Nuh juga ditegur oleh Allah SWT saat beliau akan membantu anaknya yang kafir "Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (QS. Hud: 46)

Ayat ini juga sebagai bukti dan dalil bahwa kita tidak diperbolehkan cenderung kepada orang-orang kafir, sebagaimana Nuh as di larang mendoakan anaknya yang masih kafir.

Apa yang diingatkan oleh surat Hud ayat 112-113 sangat berguna buat kita yang hidup di tengah kondisi seperti sekarang ini. Saat ini umat Islam di belahan dunia ditekan dan diintimidasi sebagainya ditekannya umat islam di zaman Nabi saw pada saat di Makkah. Hanya ada tiga sikap yang dipesankan oleh Allah SWT dalam ayat ini:

Pertama, istiqomah dalam menjalankan ajaran islam dan berdakwah, dan jangan pernah berputus asa di kondisi apapun.

Kedua, jangan mengambil tindakan yang melampaui batas dengan melakukan tindakan kekerasan, karena hal itu akan dimanfaatkan musuh untuk mencitra-negatifkan umat Islam.

Ketiga, jangan pernah tunduk kepada kemauan orang-orang kafir dengan menggadaikan segala idealisme dan cita-cita kita. Sehingga izzah dan kemuliaan kita dapat diinjak-injak oleh mereka.

Selamat menjadi pribadi istiqamah dalam kebenaran sampai akhir hayat

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Abdul Ghaffar