YPIT Mutiara

Bersegera dalam Kebaikan

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabaraktuh.  

 

Sahabat sehati yg seaqidah dan seiman yang mengharapkan ridha dan hidayah Allah, bersyukur kita kepada Allah atas kesempatan hidup yang Allah karuniakan dengan penuh harap semoga kita bersegera dalam beramal shaleh.

 

Bersegera dalam kebaikan sangat dianjurkan dalam Islam..                               

 

Bisa jadi kesempatan berbuat baik akan terlewatkan jika tidak bersegera. Sebab waktu tak bisa diputar, kesempatan belum tentu datang dua kali. Betapa pentingnya manusia untuk selalu menghargai waktu. Sehingga bisa tergolong orang-orang yang beruntung.

 

Allloh telah berfirman, ” Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan berbagai macam kebaikan, dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan disertai rasa harap dan cemas. Dan mereka pun senantiasa khusyu’ dalam beribadah kepada Kami.” (QS. Al Anbiyaa’ [21] : 90).

 

Keutamaan untuk bersegera dalam kebaikan

 

Dari Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa ada seseorang datang kepada Nabi saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yaitu kamu sedekah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga bila nyawa sudah sampai di tenggorokan (sekarat) maka kamu baru berkata: untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris) (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: apakah yang kamu nantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahkan segalanya atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia sejelek-jelek yang ditungguatau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah suatu yang sangat berat dan menakutkan. (H.R. Tirmidzi)

 

Hadits-hadits di atas lebih dari cukup sebagai bekal kaum muslim. Pahala tiada terhingga telah menanti siapapun yang bersegera dalam kebaikan menyambut seruan Alloh. Pelajaran berharga dari generasi para sahabat dan sahabiyah bisa dipetik. Tentang bagaimana mereka melaksanakan seruan Alloh dengan amat cepat. Ketika ayat tentang khamr turun, para sahabat dengan segera membuang khamr-khamr yang mereka miliki, bahkan yang telah berada dalam mulut. Sehingga jalanan saat itu berubah seperti sungai. Pun ketika turun ayat tentang kewajiban berjilbab dan berkerudung. Para sahabiyah segera menyambutnya meskipun dengan menjadikan gorden rumah sebagai penutup aurat.

 

Dalam era kekinian, kita pun bisa mengaplikannya dengan mudah. Di zaman serba digital sekarang ini, menuntut ilmu agama sangat mudah. Asal mau saja gampang sekali untuk tahu tentang hukum syara. Pengajian juga bertebaran di mana-mana, di televisi atau di majelis taklim lingkungan tempat tinggal/bekerja. Artikel keislaman pun sangat mudah diakses di dunia maya/internet. Jadi tak ada alasan “tidak tahu” atas suatu kewajiban yang diperintahkan Alloh atau atas suatu hal yang dilarang Alloh. Bukan jamannya lagi “tidak tahu” dijadikan sebagai alasan pembenaran atas suatu pelanggaran aturan syara. Sebagai contoh, saat sekarang rasanya tidak mungkin ada seorang muslimah yang tidak tahu kewajibannya menutup aurat. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kota. Namun kenyataannya masih amat banyak muslimah yang justru memamerkan keindahan auratnya. Penyebabnya cuma satu: tidak bersegera dalam kebaikan dan menerima seruan Alloh. Jadi bukan karena “tidak tahu” tapi lebih karena “tidak mau tahu”.

 

Bersegera dalam kebaikan semoga bisa menjadi denyut jantung setiap muslim. Kala tahu ada kewajiban yang belum tertunaikan, ia segera melakukan. Saat tahu ada perbuatannya yang salah, ia segera bertobat. Tanpa menunggu tua. Karena usia adalah rahasia Alloh. Kematian bisa datang kapan pun tanpa pernah diduga. Cukuplah nasihat kematian sebagai motivasi untuk bersegera dalam kebaikan. Bersegera dalam menyambut seruan Alloh SWT. Semoga Allah karuniakan kita kmudahan untuk bersegera berbuat kebaikan yg terbaik yg diridhai dan diberkati Allah sampai akhir hayat.                 

 Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Abdul Gaffar

BAROKAH

Assalamu'akaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat sehati yg seaqidah dan seiman, smg dg kita semakin istiqamah bersyukur, bersabar,beristighfar dg taat beribadah dan beramal shaleh,Allah memberkati hidup hita.                              

BAROKAH

Al Kisah.., pada suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli buah semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah semangka tersebut terasa hambar.

.

Dan sang isteri pun marah.

Syeikh al-Imam Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu, setelah selesai di dengarkan amarahnya, beliau bertanya dengan penuh kasih sayang: 

"Kepada siapakah kamu marah wahai istriku?

Kepada pedagang buahnya kah? atau kepada pembelinya? atau kepada petani yang menanamnya?

ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?"

Tanya Syeikh al-Imam Syaqiq

Istri beliau terdiam.

Sembari tersenyum., Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya:

"Seorang pedagang selalu berusaha menjual sesuatu yang terbaik...

Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula..!

Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik..!

Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan Semangka itu..!"

Pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya...

Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya :

"Bertaqwalah wahai istriku...Terimalah apa yang sudah menjadi Ketetapan-Nya. Agar Allah memberikan keberkahan pada kita”

Mendengar nasehat suaminya itu... Sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan ridha dengan apa yang telah Allah Subhanallohu Wa Ta'ala tetapkan."

Pelajaran terpenting buat kita adalah bahwa 

Setiap keluhan yg terucap sama saja kita tidak ridha dengan ketetapan Allah SWT, sehingga barokah Allah jauh dari kita.

Karena Barokah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi 

barokah adalah bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.

Barokah itu: 

"... bertambahnya ketaatan kita kepada Allah SWT.

Makanan barokah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat setelah memakannya.

Hidup yang barokah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya menjadikannya bertambah taat kepada Allah SWT.

Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab bin Umair.

Tanah yang barokah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Allah...tiada banding....tiada tara.

Ilmu yang barokah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang barokah ialah ilmu yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal & berjuang untuk agama Allah.

Penghasilan barokah juga bukan gaji yg besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.

Anak-anak yang barokah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan yang hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Robb-Nya dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari kita & tak henti²nya mendo'akan kedua Orangtuanya.

Semoga kita semua selalu dianugrahi kekuatan untuk senantiasa bersyukur padaNYA, agar kita mendapatkan keberkahanNYA.

Wallahu A'lam Bisshowab....

 

Abdul Gaffar

Mensyukuri Nikmat Allah

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.               

Sahabat sehati yang seaqidah dan seiman, Alhamdulillah wa syukurillah atas kesempatan hidup yang Allah karuniakan dalam keadaan sehat dan iman dg harapan semoga kita semakin mensyukuri nikmat sehat dan iman dg semakin taat beribadah.        

Nikmat sehat dalam Islam adalah merupakan salah satu dari dua macam kenikmatan yang sering dilupakan oleh manusia yaitu nikmat sehat dan juga nikmat kelapangan waktu atau kesempatan. Hal ini tercentum dalam sebuah hadist Rasulullah SAW yaitu "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan kesempatan". (HR.Bukhari dari Ibnu Abbas).                                

Kita juga memerlukan pengetahuan akan bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah termasuk dalam hal nikmat yang satu ini.

Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia, merupakan pemberian yang terus menerus, dengan berbagai macam bentuk lahir dan batin. Hanya manusia sajalah yang kurang pandai dalam memelihara nikmat, sehingga ia merasa seolah-olah belum diberikan sesuatu pun oleh Allah. Disebabkan ia tidak bersyukur kepada Allah dan tidak merasakan bahwa Allah telah memberi kepadanya sangat banyak dari permintannya.

Mensyukuri nikmat Allah adalah merupakan bagian dari bagian dari keimanan kita kepada Allah Ta'ala. Dan nikmat yang sangat besar bagi manusia adalah nikmat iman itu sendiri. Termasuk orang yang menyia-nyiakan nikmat Allah adalah orang yang menggunakan nikmat Allah tidak pada tempatnya, atau menggunakan nikmat Allah untuk kemaksiatan. Untuk itulah kita perlu mengetahui akan hakikat dan cara mensyukuri nikmat Allah atas limpahan karuniaNya atas diri kiri kita semuanya.

Kita seringkali baru merasakan akan berbagai macam kenikmatan hidup sehat adalah ketika kita sedang sakit. Dalam keadaan kita sakit itulah kita baru menyadari akan berbagai hal kenikmatan hidup ketika dalam keadaan badan dan tubuh yang sehat. 

Ada beberapa hal yang berhubungan dengan cara mensyukuri nikmat sehat karunia dari Allah Ta'ala yaitu dengan cara :

Meyakini dalam hati bahwa nikmat yang diterima semata-mata pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang yang beriman seharusnya tidak menisbatkan (mengarahkan sebab timbulnya) nikmat kepada kekuatan, kepintaran, keberaniannya, dan semisalnya. Sebagai contoh Nabi Sulaiman alahi salam tatkala singgasana Ratu Saba’ bisa didatangkan di hadapannya dalam tempo sekejap, maka beliau berkata: "Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)." (QS. An-Naml: 40).

Memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala karunia-Nya. 

Ini dilakukan dengan cara mengucapkan puji syukur dan menceritakannya secara lahir. Karena, dengan selalu mengingat dan menceritakan (bukan untuk kesombongan) pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendorong untuk bersyukur. Hal itu karena manusia mempunyai tabiat menyukai orang yang berbuat baik kepadanya.

Menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Salah satu bentuk realisasi kita terhadap mensyukuri nikmat Allah dan sehat ini adalah dengan berbuat taat dalam beribadah bukan malah sebaliknya yaitu untuk berbuat maksiat. Karena pada dasarnya hal ini adalah merealisasikan beragam amal shalih sebagai bentuk mensyukuri nikmat.

Memelihara Kesehatan Badan.

Cara menjaga kesehatan badan yaitu yaitu bisa dengan jalan antara lain tidak merokok dan tidak makan – minum makanan yg merusak kesehatan dan banyak mudharat dan akan menyebabkan gangguan kesehatan pada diri kita juga.

Mengatur Pola Makan, Istirahat dan Olahraga. 

Cara kedua ini lebih mudah kita sebut dengan menjalankan pola hidup yang sehat. Karena dengan menjalankan pola hidup sehat akan bagian dari cara dan tips mensyukuri nikmat sehat dalam Islam yang bisa kita coba terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Menjaga Kebersihan.

Islam juga memberikan perhatian dalam rangka menjaga kesehatan dan mensyukuri nikmat sehat dengan adanya anjuran dan perintah menjaga kebersihan. “Annadha fatu minal iiman” kebersihan itu adalah sebagian dari pada iman. Menjaga kebersihan adalah salah satu upaya untuk mencapai kesehatan dan bagian dari sekian banyak tips kesehatan. Semoga bermanfaat dan memitivasi kita untuk semakin bersyukur kepada Allah dg smakin istiqamah taat beribadah dan beramal shaleh sampai akhir hayat.  

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabaraktuh.  

Abdul Gaffar

Menjadi pribadi yang senantiasa Bersyukur, Bersabar dan Beristighfar

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabaraktuh.

Sahabat sehati yang seaqidah dan seiman yang dirahmati Allah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang menciptakan seluruh makhluk-Nya. Di antara mereka ada yang beriman dan di antara mereka ada yang kafir. Allah Ta’ala berfirman,

فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ* فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ* خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتْ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ* وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتْ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

“…maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Hud: 105-108).

Istiqamahlah taat beribadah,

Sesungguhnya kebinasaan dan kebahagiaan memiliki sebab yang melatar-belakanginya. Kebinasaan atau celaka disebabkan kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maksiat, dan perbuatan jelek lainnya kemudian tidak disertai taubat oleh pelakunya. Sedangkan kebahagiaan sebabnya adalah amal shaleh dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kebahagiaan itu bukan karena bertumpuknya harta. Tetapi takwa itulah yang membuat bahagia.

Takwa merupakan sebaik-baik perbekalan. Dan bagi mereka yang bertakwa ada nikmat tambahan.

Istiqmahlah taat beribadah, 

Ada tiga tabiat yang mampu mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Ketiga tabiat tersebut adalah:                     

  1. apabila diberi, bersyukur, 
  2. apabila diuji, bersabar,         
  3. apabila berdosa, beristighfar atau bertaubat. 

Inilah tiga komponen kehidupan yang mampu mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan.

Pertama, apabila diberti, bersyukur.

Apabila seseorang, Allah berikan suatu nikmat kepadanya, maka ia akan bersyukur kepada Allah atas kenikmatan tersebut. Mempergunakan kenikmatan itu untuk  mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia pun memuji Allah atas nikmat tersebut. Baik memuji-Nya secara zahir maupun batin. Mengakui bahwasanya nikmat tersebut dari Allah. Tidak ada daya dan upaya untuk mendapatkannya kecuali dari Allah. Dan syukur pun memiliki tiga rukun:

  1. Menyebut-nyebut atau menceritakan kenikmatan tersebut.
  2. Mengakuinya berasal dari Allah, secara lahir dan batin.
  3. Menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah.

Inilah orang yang berhasil menggunakan kenikmatan sebagai anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun orang-orang yang tidak bersyukur, maka Allah peringatkan mereka dengan adzab. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Syukur itu bukan hanya di lisan saja. Akan tetapi syukur itu hadir di lisan dengan ucapan, di hati dengan pengakuan, dan pada anggota badan dengan amalan ketaatan.

Kedua, apabila diuji, bersabar.

Allah berifirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah ujian. Allah uji manusia dengan kebaikan dan keburukan. Orang yang diuji dengan kejelekan ia bersabar dan ketika diuji dengan kenikmatan ia bersyukur, inilah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan.

Adapun orang-orang yang jika diberi nikmat dia kufur. Jika ditimpa musibah, dia murka kepada takdir Allah. Inilah orang-orang yang celaka dan binasa. Orang yang demikian tidak akan mencapai derajat yang utama dan tidak pula apa yang mereka dapatkan bermanfaat dari apa yang mereka lakukan. Apa yang mereka lakukan hanya akan mengantarkan kepada kehancuran.

Jika Allah memberikan nikmat kepada kita, maka bersyukurlah, janganlah menjadi orang yang sombong karenanya. Jangan menggunakan kenikmatan yang Dia berikan untuk bermaksiat kepada-Nya. Jangan gunakan untuk memenuhi syahwat. Jangan menggunakannya untuk jalan-jalan berwisata di negeri kafir, melihat apa yang mereka lakukan. Bisa jadi kita menjadi seperti mereka atau bahkan lebih jelek dari mereka.

Orang-orang kafir mengejek sebagian umat Islam yang datang ke negeri mereka. Lalu sebagian orang muslim tadi pun melakukan kekufuran, fajir, dan kefasikan agar diterima di kalangan orang-orang kafir.

Tabiat yang kedua ini, apabila diuji bersabar, Allah tetapkan agar semakin tampaklah mana orang-orang yang bersabar dan mana orang-orang yang tidak sabar. Allah Ta’ala berfirman,

(وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الأَمْوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ* الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ*)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun”.” (QS. Al-Baqarah: 155-156).

Kemudian Allah lanjutkan firman-Nya, memuji orang-orang yang berbuat demikian.

أُوْلَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157).

Allah akan memberi musibah kepada para hamba-Nya sebagai ujian. Dan musibah yang paling besar dan paling berat adalah musibah yang menimpa para nabi kemudian orang-orang yang lebih rendah derajatnya dari para nabi. Kita bisa membaca sendiri di dalam Alquran, bagaimana perjalanan hidup para nabi? Bagaimana musibah yang menimpa mereka? Bagaimana gangguan yang mereka terima dari orang-orang kafir?

 أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمْ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214).

Pertolongan Allah datang bersama kesabaran. Kebahagiaan itu hadir setelah adanya musibah. Dan kemudahan ada bersama kesulitan. Mereka tidak berputus asa walaupun musibah yang menimpa mereka semakin berat. Mereka bersabar atas bala’ dan bencana. Balasan mereka adalah kebaikan.

Ketiga, apabila berdosa, bersitighfar dan bertaubat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.”

Seseorang itu berpotensi melakukan kesalahan. Namun apabila dosa-dosa itu menyebabkannya menjadi orang yang berputus asa dari rahmat Allah, maka dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa. Jika saja orang yang banyak melakukan dosa bertaubat, maka Allah akan terima taubatnya, dan akan Allah balas dengan kebaikan. Allah berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

Demikian juga dengan firman-Nya,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ* أُوْلَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 136-137).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ

“Orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.”

Oleh karena itu, janganlah seseorang merasa putus asa dari rahmat Allah dan ampunan-Nya. Yang harus dilakukan seseorang adalah bersegera bertaubat kepada-Nya.

 قُلْ يَا عِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ* وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya” (QS. Az-Zumar: 53-54).

Barangsiapa yang bertaubat kepada Allah, sebanyak apapun dosa dan kesalahannya, Allah akan menghapus semua dosa dan kesalahan tersebut. Dia akan menghapus semua kejelekan yang telah hamba tersebut lakukan. Membersihkannya dari noda dosa jika taubatnya benar-benar jujur, bukan hanya di mulut saja.

Oleh karena itu, taubat pun memiliki syarat agar diterima:

Syarat pertama: meninggalkan perbuatan dosa.

Apabila seseorang beristighfar kepada Allah, memohon ampunan kepada-Nya, tapi ia tidak berpaling dari perbuatan dosa tersebut, maka taubatnya hanya sebatas ucapan saja. Dia tidak disebut orang yang bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang demikian malah dikatakan orang yang bermain-main saja dengan taubatnya. Meninggalkan perbuatan dosa adalah syarat pertama diterimanya taubat.

Syarat kedua: bertekad agar tidak kembali melakukan dosa tersebut selama hidupnya.

Apabila saat bertaubat masih ada keinginan kembali melakukan dosa tersebut, taubat yang demikian tidaklah diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Harus ada ketetapan di hatinya saat bertaubat, bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatan dosa serupa. Apabila di hatinya masih tersimpan hasrat melakukan dosa semisal, maka dosa yang sama yang ia lakukan tidak terhapus.

Syarat ketiga: menyesali perbuatan tersebut.

Syarat keempat: apabila dosa tersebut terkait dengan kezaliman sesama manusia dalam hak atau harta mereka, maka disyaratkan harus mengembalikan harta atau meminta maaf kepada mereka.

Jadi taubat itu bukan hanya di lisan saja.

Syarat kelima: ketika nyawa belum sampai tenggorokan.

وَلَيْسَتْ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمْ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. (QS. Annisa: 8).

Seseorang yang menunda taubat hingga nyawanya berada di tenggorokan, yang saat itu ia tahu akan berpisah dengan kehidupan, maka tidak diterima taubatnya. Taubat adalah di saat sehat dan di saat hidup. Adapun taubat saat seseorang sudah merasa hidupnya akan berakhir, maka tidak diterima taubatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.”

Yakni saat ruhnya belum mencapai tenggorokannya. Jika yang demikian diterima, niscaya manusia hanya akan bertaubat ketika kematian telah datang kepada mereka. Ada orang-orang yang meremehkan kemaksiatan mereka sering berucap, urusannya gampang, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Iya betul, memang Allah Maha Pengampun dan Penyayang, tapi kepada siapa? Kepada orang-orang yang mau bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha: 82

Inilah orang-orang yang akan diterima taubatnya dan diampuni oleh Allah. Adapun orang-orang yang mengatakan, “nanti aku bertaubat” atau orang-orang yang bersadar hanya dengan berharap kepada Allah karena Allah Maha Pengampun dan Penyayang, ini adalah angan-angan dan kedustaan semata. Mereka tidak berhak untuk mendapatkan qabul, penerimaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Istiqamahlah taat beribadah

Barangsiapa yang memiliki ketiga sifat yang telah disebutkan di atas, maka merekalah orang-orang yang berbahagia. Apabila mereka diberi, mereka bersyukur. Diberi ujian, mereka bersabar. Dan berdosa, mereka segera bertaubat dan beristighfar. Ketiga hal ini adalah pengantar kebahagiaan hakiki kepada seseorang.

Kita memohon kepada Allah, agar Dia memeberi taufik kepada kita mengamalkan ketiga sifat yang agung ini. Semoga Allah menganugerahkan dan meberi hidayah saya dan Anda untuk bertaubat kepada-Nya. Kemudian menganugerahkan ampunan kepada kita semua.

Ketiga hal inilah yang mengantarkan kepada kebahagiaan. Kebahagiaan itu bukan dengan harta dan anak-anak. Bukan juga dengan kepemimpinan dan kekuasaan. Bahagia juga bukan dengan memperturutkan syahwat. Kebahagiaan yang hakiki adalah bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selamat menjadi pribadi yg senantiasa bersyukur,bersabar dan beristighfar dg semakin istiqamah taat beribadah dan beramal shaleh sampai akhir hayat.  

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.                   

Abdul Gaffar

Meraih Berkah, Manfaat dan Kebaikan bulan Ramadhan

بِسْـــــــــــمِاللهِالرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ

السَّلاَمُعَلَيْكُمْوَرَحْمَةُاللّهِوَبَرَكَاتُهُ


Bapak-Ibu sahabat sehati yang dirhmati Allah, pastikan komitment kita di hari keenam Ramadhan yang penuh dengan berkah, ampunan dan pemebasan dari api neraka, menjadikan kita  semakin istiqamah meningkatkan Iman dan Taqwa serta Amal Shaleh untuk meraih Ridha Allah beserta AmpunanNYA dengan selalu bersyukur dan saling berbagi untuk meraih kebahagiaan yang hakiki dunia akherat.

Muslim yang cerdas mengetahui bagaimana caranya meraih berkah, manfaat dan kebaikan bulan Ramadhan. Dalam setiap hari, jam, menit dan detiknya.

Untuk meraih hal demikian dibutuhkan program amal shaleh yang harus  ilaksanakan setiap muslim dalam mewujudkannya di bulan mulia ini. Dengan program ini,diharapkan kita bisa mengevaluasi sejauh mana efektivitas ibadah Ramadhan berdampak pada peningkatan keimanan dan keshalehan.

Di antara program amal shaleh adalah :

Pertama, Program Jutaan Kebaikan Ramadhan

Membaca Al Quran tiga Juz satu hari. Imam At Tirmidzi dalam hadits Hasan Shahih dari Abdullah bin Masud ra. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf,namun alif satu huruf,lam satu huruf,dan mim satu huruf.

Sederhananya kita bisa katakan: satu juz Al quran kira-kira berjumlah 7000 huruf x satu huruf dengan 10 kebaikan x pahala 70 kewajiban = 4.900.000 (empat juta sembilan ratus ribu) kebaikan. Kita bisa membaca satu juz dalam waktu kira-kira 40 menit paling lama.

Jika kita mampu mengkhatamkan Al Quran satu kali saja di bulan Ramadhan, maka Anda biidznillah meraih 147 juta kebaikan. Jika Anda mengkhatamkan tigakali : 147 x 3 = 441 juta kebaikan,  padahal Allah swt. melipat gandakan pahala kepada siapa saja yang dkhendaki-Nya.

Kedua, Program Terhindar dari Neraka dan Penyakit Nifaq

Program ini akan kita raih dengan selalu menjaga shalat lima waktu di masjid dengan mndapatkan takbiratul ihram awal imam. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: Barangsiapa yang shalat krena Allah empat puluh hari secara berjamaah dengan mendapatkan takbiratul ihram pertama imam, maka ia dipastikan akan terhindar dari dua hal: terhindar dari api neraka dan terhindar dari penyakit nifaq atau munafiq.
Seorang generasi Tabiin, Said bin Al Musayyib berkata:
Tidaklah seorang muadzin mngmndangkan adzan selama tiga puluh tahun, kecuali saya sudah berada di dalam masjid.

Ketiga, Program 30 Kali Haji dan Umrah Yaitu dengan menunggu di masjid setelah shalat berjamaah Subuh sampai terbit matahari dengan mlakukan shalat dua rekaat Dhuha. Imam At Tirmidzi meriwayatkan dengan hadits Hasan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Barangsiapa yang shalat Shubuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.

Keempat, Program Doa Makbul

Dengan cara melaksanakan seruan Allah swt. Dan Tuhan kalian berfirman: Berdoalah kpd-Ku, Pasti Aku kabulkan permintaan kalian. Ghafir:60 Hadits Nabi saw.:

Tiga kelompok yang tidak akan ditolak doanya: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka. Pemimpin yang adil. Dan doa orang yang teraniaya. Allah menyibak awan dan membuka pintu-pintu langit seraya berfirman: Demi kemulian-Ku dan keagungan-Ku, pasti Aku tolong kamu, walau setelah beberapa waktu. Ahmad dan At Tirmidzi

Maka khususkan kita berdoa dalam setiap hari sepertiga jam (20 menit) sebelum buka puasa. Kita menyibukkan diri dengan menghadap kiblat,kita angkat kedua tangan ke langit, memohon kpda Tuhanmu dengan penuh ikhlas, rendah diri, penuh harap dan penerimaan. Kalau perlu kita menyiapkan runtutan doa yang akan kita baca. Kita berdoa untuk diri sendiri,keluarga, teman serta umat muslim yang tertindas seperti di Palestina, Iraq, dan Afghanistan dan setiap penjuru umat muslim.

Kelima, Program lebih 90 Rumah di Surga

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Tidaklah seorang hamba muslim yang melaksanakan shalat karena Allah setiap hari berjumlah 12 rakaat sunnah selain yang wajib, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga.

Ini artinya Anda shalat sunnah sehari semalam 47 rakaat selain shalat wajib. Cara pelaksanaannya demikian:

* Menjaga melaksanakan shalat sunnah 12 rakaat (Shalat sunnah qabla shubuh 2 rakaat,qabla dan ba'da dzuhur 4 rakaat, qabla Ashar 2 rakaat, ba'da maghrib 2 rakaat, dan ba'da isya' 2 rakaat)
* Melaksanakan shalat tarawaih dan witir minimal 11 rakaat
* Melaksanakan shalat sunnah lainnya, seperti:

1. Shalat Dhuha 4 rakaat
2. Shalat tahiyatal masjid 10 rakaat (2 rakaat,setiap 5 waktu)
3. Shalat ba'da wudhu 10 rakaat (2 raakaat setiap kali selesai berwudhu)
Jumlahnya 47 rakaat, jumlah ini sepadan dengan lebih 3 rumah di surga setiap hari, atau lebih 90 rumah sepanjang bulan.

Keenam, Program Penghapusan Dosa

Dengan cara menunaikan umrah dan berziarah ke dua kota suci: Makkah dan Madinah.Diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda: Dari umrah satu ke umrah yang lain, menghapus kesalahan antara waktu keduanya, jika tidak melakukan dosa besar.

Apalagi umrah di bulan Ramadhan yang memiliki pahala khusus, Rasulullah saw. bersabda: Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan haji. Dalam riwayat yang lain: Sebanding haji bersamaku. Bukhari dan Muslim

Ketujuh, Program Rumah Masa Depan

Dengan cara kita membagi anggota keluarga dalam semalam menjadi beberapa kelompok. Satu orang di antara mereka berjaga satu jam, kemudian membangunkan orang sesudahnya, ia bergantian untuk tidur. Buatlah jadwal dan pasang di dinding. Sehingga dengan demikian anggota keluarga sebenarnya shalat semalam suntuk di rumah. Betapa besar keutamaan dan kemuliaan yang akan diraih. Allah berfirman:

Dan sebagian malam, maka shalat tahajudlah sebagai ibadah nafilah kamu. Mudah-mudahan Allah membangunkan bagimu tempat yang terpuji. Al Isra:79

Anas bin Malik ra membagi malamnya menjadi tiga bagian: Ia bangun dan shalat di sepertiga malam awal. Kemudian ia membangunkan istrinya untuk shalat di sepertiga malam kedua. Kemudian istrinya membangunkan putrinya satu-satunya untuk melaksanakan shalat di sepertiga akhir. Ketika istrinya meningggal, Anas membagi malamnya menjadi dua bagian: ia shalat malam di separuh malam pertama, kemudian ia membangunkan putrinya untuk shalat malam di separuh malam terkahir. Ketika Anas meninggal dunia, putrinya berjuang untuk menghidupkan malam seluruhnya.

Kedelapan, Program Malam Sepanjang Umur

Dengan menghidupkan malam lailatul Qadar. Malam di mana Al Quran diturunkan di dalamnya.

Semoga dengan kesungguhan kita mengaloksikan waktu khusus di dua puluh malam terakhir Ramadhan, Allah karuniakan kita kemudahan meraih malam lailatul qadar yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan.

Selamat merealisasikan Program Amal shaleh di bulan Ramadhan untuk meraih Berkah, Manfaat dan Kebaikan bulan Ramadhan.

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni).

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Abdul Gaffar