YPIT Mutiara

Cegahlah Perbuatan Keji dan Munkar dengan Menegakkan Shalat [Khutbah Jumat]

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bapak-Ibu sahabat sehati yang drahmati Allah,semoga Allah karuniakan kita kemudahan untuk semakin istiqamah taat bribadah, berihtiar, berdo'a, bertawakkal, bersabar, bersyukur dengan ikhlas serta bertolong menolong dalam kebaikan untuk saling menyempurnakan menuju khusnul khotimah.

Bapak-Ibu sahabat sehati yang dirahmati Allah,smg Allah karuniakan kita kemudahan untuk smakin memahami dan meyakini firman Allah Ta’ala di dalam Al Quran,(QS. Al Ankabut: 45) Artinya: “…dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan fahsya (dosa-dosa yang diburukkan oleh syariat, akal dan nurani manusia, lebih banyak dipakai dalam arti zina dan yang semisal dengannya) dan mungkar (segala macam bentuk dosa dan kesalahan)”. (QS. Al Ankabut: 45) 

Dari ayat ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran, bahwa shalat mencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar, tetapi perlu diingat shalat yang mencegah perbuatan fahsya dan mungkar adalah shalat yang disempurnakan di dalamnya rukun-rukun, kewajiban-kewajiban serta kekhusyu’annya, mari perhatikan perkataan yang sangat bermakna dari ulama ahli tafsir abad ke 14 Hijriyyah, Syeikh Al ‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah: “Sisi keberadaan shalat mencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar yaitu; ketika seorang hamba yang mendirikan shalat, menyempurnakan akan rukun-rukun,syarat-syarat dan  kekhusyu’annya, maka hatinya akan bersih, perasaannya akan jernih, imannya akan bertambah, bertambah kuat keinginannya untuk melaksanakan kebaikan dan berkurang atau hilang keinginannya untuk mengerjakan keburukan,dengan selalu mengerjakan serta menjaga shalat dalam keadaan yang seperti ini, maka shalatnya akan mencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar. Dan ini termasuk dari tujuan dan hasil yang sangat agung dari shalat tersebut. Kemudian di dalam shalat juga, terdapat tujuan yang lebih agung dan lebih besar dari ini, yaitu apa yang terkumpul di dalamnya berupa mengingat Allah baik dengan hati, lisan dan badan. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluknya hanya untuk beribadah kepada-Nya, dan ibadah yang paling utama dari mereka (para makhluk) adalah shalat, karena di dalamnya terdapat pengabdian seluruh anggota tubuh yang tidak terdapat dalam ibadah lain, oleh sebab inilah Allah Ta’ala berfirman: “Dan mengingat Allah adalah lebih agung”. (Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa’di)

Shalat bukan hanya sekedar gerakan-gerakan tubuh yang tidak meninggalkan pengaruh dan bekas positif dalam kehidupan sehari-hari agar senantiasa selalu taat kepada Allah Ta’ala. 

Tidak ada seorangpun yang mengetahui amalannya ditolak atau diterima Allah Ta’ala, karena hal itu adalah hak Allah Ta’ala semata tiada sekutu bagi-Nya. Hal Ini juga dikarenakan manusia adalah makhluk yang kemampuan penalarannya terbatas, tidak mengetahui apakah pelaku dari sebuah ibadah itu, ketika dia melakukannya benar-benar ikhlas atau tidak. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang mnyelesaikan (shalatnya) dan tidak dituliskan baginya melainkan 1/10, 1/9, 1/8, 1/7, 1/6, 1/5, 1/4, 1/3 dan ½ dari shalatnya”. (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud)

Seseorang kadang terlihat melakukan amal ibadah ternyata dia penghuni neraka, coba perhatikan apa yang menyebabkan hal itu:  Sahl bin Sa’ad As Sa’idy radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan kaum musyrik, lalu mereka berperang. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang ke tempat peristirahatan beliau dan dan yang lain pulang ke tempat peristirahatan mereka, dan pada waktu di tengah-tengah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam terdapat seorang lelaki yang tidaklah dia bertemu dengan musuh melainkan dia ikuti dan dia tebas dengan pedangnya. Lalu ada yang berkata: “Pada hari ini, tidak ada seorangpun yang lebih berani sebagaimana beraninya si fulan”. Lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dia penghuni neraka”, kemudian seorang dari mereka (para shahabat) berkata: “Aku yang akan menemaninya”, lalu dia pun keluar bersama dengan si fulan tadi, berhenti dimana si fulan tadi berhenti dan jika si fulan bergerak maka dia bergerak bersamanya, lalu akhirnya si fulan tadi terluka dengan luka yang sangat parah, lalu dia menyegerakan kematian. Dia letakkan gagang pedangnya di tanah dan ujungnya dia tancapkan diantara kedua susunya (/di dadanya), kemudian dia tusukkan pedangnya tadi ke dadanya dan akhirnya dia membunuh dirinya sendiri. Lalu orang (yang mengikuti tadi) pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Aku bersyahadat bahwa engkau adalah Rasulullah”, beliau bertanya: “Ada apa gerangan dengan syahadatmu itu?”, orang ini menjawab: “Lelaki yang engkau sebuntukan tadi dia adalah penghuni neraka, padahal orang-orang mengagungkannya, dan aku katakan bhwa aku yang akan menemaninya, lalu akupun mencarinya dan aku dapati dia dalam keadaan terluka sangat parah, lalu dia menyegerakan kematian. Dia letakkan gagang pedangnya di tanah dan ujungnya dia tancapkan diantara kedua susunya (di dadanya), kemudian dia tusukkan pedangnya tadi ke dadanya dan akhirnya dia membunuh dirinya sendiri. Pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang benar-benar mengerjakan amalan penghuni surga menurut pandangan manusia, padahal dia adalah penghuni neraka dan seseorang benar-benar mengerjakan amalan penghuni neraka menurut pandangan manusia, padahal dia adalah penghuni surga”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Dosa-dosa yang dikerjakan oleh seseorang, baik dosa kecil apalagi dosa besar, tidak menjadikannya sebagai sebuah alasan untuk meninggalkan shalat, karena shalat lima waktu diwajibkan bagi seorang muslim baligh dan berakal dalam keadaan bagaimanapun kecuali wanita yang haid.


Sekali lagi perlu diingat baik-baik, maksiat yang dilakukan oleh seseorang tidak boleh  dijadikan sebagai alasan
untuk meninggalkan shalat lima waktu, apapun maksiat yang dilakukan. Dia harus tetap shalat dan tidak boleh meninggalkannya hanya karena dia melakukan maksiat, semoga shalatnya mencegahnya dari melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana Firman Allah Ta’ala: Artinya: “Dan dirikanlah shalat, ssungguhnya shalat mencegah perbuatan fahsya dan mungkar”. (QS. Al Ankabut: 45)

Al Baidhawi berkata di dalam kitab tafsir: “Shalatnya akan menjadi sebab untuk  menghentikan maksiat-maksiat, ketika dia sibuk dengan shalatnya atau sibuk dengan selainnya dari amalan yang mengingatkan kepada Allah dan mewariskan kepada dirinya perasaan takut kepada-Nya. (Lihat Tafsir Al Baidhawi) Akan tetapi siapa yang shalat, lalu dia juga melakukan fahsya dan mungkar, maka dia telah mencampurkan amal shalih dengan keburukan, jika dosanya lebih banyak daripada pahalanya maka dia akan binasa pada hari kiamat kecuali jika dia mendapatkan rahmat Allah Ta’ala.

Kewajiban kita jika menghadapi orang yang rajin shalat,tapi juga rajin bermaksiyat, adalah menasehatinya dengan lembut dan perkataan yang baik, dengan menjelaskan bahwa seorang hamba Allah Ta’ala semestinya harus benar-benar total dalam menghambakan dirinya kepada Allah Ta’ala, tidak setengah-setengah sesuai dengan kehendak hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah: 208) Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Abdul Gaffar